MOTAAIN, 17 November 2025– Kawasan perbatasan Indonesia dan Timor Leste kembali menjadi pusat kegiatan akademik yang inspiratif. Pada Senin, 17 November 2025, Aula Stasi Santo Mikhael Seroja, Motaain—sebuah lokasi strategis yang menjadi simbol kedekatan kedua bangsa—menjadi saksi bagi penyelenggaraan Lomba Pidato Bahasa Inggris yang kompetitif dan berbobot.
Digelar mulai pukul 14.00 hingga 16.00 WITA, acara ini berhasil mempertemukan enam orator terbaik dari dua institusi pendidikan filsafat terkemuka: Fakultas Filsafat (FFA) Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang dan Institute of Philosophy and Theology (ISFIT Dili, Timor Leste. Masing-masing lembaga mengirimkan tiga perwakilan, menciptakan pertarungan gagasan yang setara dan bermakna.
Kehadiran mahasiswa dari Kupang (NTT) dan Dili (Timor Leste) di Motaain bukan hanya sekadar pertemuan akademik biasa. Lomba ini menjadi manifestasi nyata dari upaya kedua lembaga dalam menembus batas-batas geografis untuk mencapai keunggulan intelektual. Lomba pidato ini dirancang sebagai platform kritis bagi para calon filsuf untuk mengasah kemampuan retorika mereka dalam bahasa internasional, suatu keterampilan yang mutlak diperlukan dalam kajian filsafat global.
Seluruh peserta telah mempersiapkan diri dengan matang. Mereka menampilkan karya-karya terbaik mereka di hadapan dewan juri yang beranggotakan perwakilan dari kedua belah pihak: Romo Luis dan Romo Fransisko, keduanya utusan dari ISFIT Dili, serta Romo Anton, perwakilan dari FFA Unwira.
Setelah penampilan yang memukau dari keenam peserta, dewan juri memberikan apresiasi yang tinggi terhadap kualitas materi dan penyampaian yang ditunjukkan. Namun, evaluasi tidak hanya berhenti pada penampilan peserta, melainkan juga menyentuh aspek penyelenggaraan.
Romo Fransisko, salah satu juri, memberikan catatan penting sekaligus masukan bagi panitia pelaksana.
“Secara substansi, para peserta sungguh luar biasa. Namun, kami berharap panitia dapat meningkatkan koordinasi teknis di masa mendatang. Idealnya, penyerahan teks pidato harus dilakukan minimal satu hari sebelum lomba dimulai,” tegasnya. “Hal ini penting untuk memberikan waktu yang cukup bagi juri untuk mengkaji bobot argumen dan orisinalitas karya, sehingga penilaian dapat dilakukan secara maksimal.”
Komentar ini diterima dengan baik oleh panitia sebagai bagian dari proses pembelajaran untuk penyelenggaraan acara lintas batas di masa depan.
Meskipun cuaca di kawasan Seroja-Motaain cukup panas, energi dan antusiasme peserta serta penonton tidak surut. Suasana ini berhasil diredam dan dihangatkan oleh kepiawaian Finotrio, mahasiswa Semester 7 Fakultas Filsafat Unwira, yang juga merupakan salah satu Calon Imam Kongregasi Claretian.
Finotrio, yang bertindak sebagai Master of Ceremony (MC), memandu jalannya acara dengan kefasihan Bahasa Inggris yang mengesankan. Kecerdasannya dalam berinteraksi dan mengalirkan acara berhasil menciptakan nuansa yang cair dan menyenangkan, menjadikannya ‘pendingin’ di tengah cuaca yang terik.
“Finotrio berhasil mencairkan suasana. Kepiawaiannya menunjukkan bahwa kefasihan berbahasa Inggris tidak hanya untuk berdebat, tetapi juga untuk membangun suasana yang hangat dan interaktif,” ujar salah seorang hadirin.
Fokus utama dari kegiatan ini adalah penegasan terhadap pentingnya penguasaan Bahasa Inggris di era modern. Romo Anton, perwakilan juri dari FFA Unwira, memberikan penekanan khusus pada aspek ini.
“Lomba ini bukan hanya sekadar mencari pemenang. Ini adalah investasi. Lomba ini sangat baik dan bermanfaat karena memberikan wawasan sekaligus pengalaman yang berharga bagi seluruh mahasiswa,” jelas Romo Anton. “Di tengah arus globalisasi, kemampuan memantapkan Bahasa Inggris adalah kebutuhan primer, sebab bahasa ini merupakan kunci utama untuk mengakses literatur filsafat dunia dan berpartisipasi dalam dialog internasional.”
Kegiatan Lomba Pidato Bahasa Inggris di Motaain ini membuktikan bahwa semangat akademik mampu melampaui batas administrasi dan geografis. Ini adalah langkah konkret kedua institusi dalam mempersiapkan mahasiswa mereka tidak hanya menjadi filsuf yang handal dalam kerangka lokal, tetapi juga orator yang fasih dan kompetitif di panggung global.
Inisiatif kolaboratif seperti ini diharapkan dapat terus berlanjut, memperkuat hubungan kekeluargaan, dan meningkatkan mutu pendidikan di kedua negara bertetangga.