Silawan, 18 November 2025 – Kelompok pengabdian teologi dari Universitas Katolik Widya Mandira Kupang (UNWIRA Kupang) dan Institut Superior Filosofia e de Teologia Dili (ISFIT Dili) menggelar seminar pengabdian teologi bagi masyarakat lingkungan Loonitas, stasi Seroja, Paroki Stela Maris Atapupu, pada Selasa, 18 November 2025 malam.
Kegiatan seminar pengabdian teologi ini diselenggarakan di kediaman ketua lingkungan Loonitas, Bapak Ose Manek, Desa Silawan, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu. Pembawa materi dalam kegiatan ini adalah RD. Polikarpus Praeng, Lic. Iur. Can., dosen Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang, dan Amo Luis Gouveia Leite, dosen ISFIT Dili. Kegiatan` ini dihadiri oleh para dosen dan mahasiswa kelompok pengabdian teologi dari UNWIRA Kupang dan ISFIT Dili, dan masyarakat yang tinggal di Lingkungan Loonitas.
Kegiatan pengabdian teologi ini merupakan lanjutan dari kegiatan Pengabdian dan Penelitian Kepada Masyarakat (PPKM) Internasional yang telah berlangsung sejak tanggal 15 November 2025 dan akan selesai pada tanggal 1 Desember 2025. Fr. Nahason da Costa pada kesempatan sebagai pembawa acara dalam kegiatan pengabdian tersebut, menyampaikan bahwa kegiatan yang bertajuk “Dialog dan In Illo Uno Unum: Kerinduan untuk Hidup dalam Keharmonisan dan Kesatuan” bertujuan untuk memahami makna persatuan dan hidup harmonis antara masyarakat perbatasan di Motaain Indonesia dan masyarakat perbatasan Timor Leste.
Polikarpus Praeng dalam materinya yang berlandas pada Kitab Hukum Kanonik Gereja Katolik, menjelaskan bahwa masyarakat perbatasan harus menghidupi nilai-nilai universal yang termuat dalam KHK Gereja Katolik. Lebih lanjut lagi, RD. Poli memberi penegasan bahwa umat Katolik dipanggil menjadi satu dalam Kristus dan merawat persaudaraan, khususnya antara masyarakat Indonesia dan Timor Leste. Amo Luis juga pada kesempatan membawa materi teologi kontekstual orang Atapupu dan Timor Leste, ia menjelaskan bahwa tradisi orang Timor merupakan tempat lahirnya Injil atau tanah subur untuk menabur Injil. Amo Luis menegaskan bahwa budaya yang adil harus dimanfaatkan untuk mewujudkan misi Gereja dalam membangun kesatuan dan persatuan antara umat di Timor Leste maupun di Timor Barat Indonesia, sehingga tidak ada sekte-sekte yang memanfaatkan budaya untuk melawan Gereja Katolik.
Setelah pemateri menyelesaikan presentasi materi, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi umum dan peserta seminar dibagi dalam kelompok-kelompok untuk melakukan Focus Group Discussion (FGD) atau diskusi kelompok terfokus dengan pertanyaan penuntun yang telah disediakan, kemudian ditutup dengan doa bersama dan berkat penutup ole Amo Luis Leite.
A.T