Oleh: Yohanes Baptista Righi
Mahasiswa Fakultas Filsafat
Bertani dan beternak merupakan dua kegiatan penting yang berperan besar dalam kehidupan manusia. Sejak dahulu, masyarakat Indonesia, khususnya di pedesaan, menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan peternakan. Kedua kegiatan ini tidak hanya menjadi sumber penghasilan, tetapi juga menyediakan kebutuhan pangan bagi keluarga, komunitas, dan masyarakat luas. Oleh karena itu, bertani dan beternak perlu dikembangkan sebagai usaha yang produktif dan berkelanjutan.
Bertani adalah kegiatan mengolah tanah untuk menghasilkan berbagai jenis tanaman, seperti padi, jagung, sayur-sayuran, dan buah-buahan. Hasil pertanian menjadi sumber makanan utama bagi manusia. Sementara itu, beternak adalah kegiatan memelihara hewan, seperti sapi, kambing, babi, ayam, dan bebek, untuk memperoleh daging, susu, telur, dan hasil lain yang bernilai ekonomis.
Selain memberikan manfaat ekonomi, bertani dan beternak juga mengajarkan nilai-nilai kehidupan. Melalui kegiatan ini, seseorang belajar menghargai proses, bertanggung jawab terhadap pekerjaan, bekerja sama dengan orang lain, dan bersyukur atas hasil yang diperoleh. Petani dan peternak juga berperan penting dalam menjaga ketahanan pangan serta mendukung pembangunan masyarakat, terutama di wilayah pedesaan.
Komunitas Skolastikat Hati Maria Misionaris Claretian Kupang mengembangkan kedua kegiatan ini. Kami melakukan berbagai bentuk pengembangan kreativitas di bidang pertanian dan peternakan. Sesuai dengan nasihat bapa pendiri kami, Santo Antonius Maria Claret, seorang misionaris Claretian harus memiliki dua kaki misionaris, yaitu studi atau bekerja, dan berdoa. Sebagai misionaris dalam tahap pendidikan, kami menyadari bahwa kedua kegiatan ini memberi banyak manfaat bagi hidup kami, terutama dalam tugas pastoral.
Kreativitas sebagai latihan dan persiapan pastoral yang integral berarti kemampuan mengembangkan ide, menemukan cara baru, dan menggunakan berbagai potensi yang dimiliki untuk melayani umat secara lebih baik. Dalam tahap formasi, kami melatih kreativitas ini melalui kegiatan sehari-hari, kehidupan doa, studi, hidup berkomunitas, dan keterlibatan dalam pelayanan. Latihan ini membantu kami tidak hanya memahami teori di kampus, tetapi juga menerapkannya dalam situasi konkret. Salah satu wujudnya ialah bertani dan beternak.
Sayuran yang kami tanam antara lain sawi, petsai, bayam hijau, bayam merah, dan kol. Adapun tanaman buah dan sayuran buah yang kami kelola ialah terung, cabai, pepaya, dan buah naga. Di bidang peternakan, kami memelihara babi, kambing, ayam, dan burung merpati. Seluruh anggota komunitas ikut mengelolanya, dan hasilnya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan ekonomi komunitas sendiri.
![]() |
![]() |
![]() |
| Gambar 1. Mengolah lahan sayuran. | Gambar 2. Merawat tanaman di pekarangan komunitas. | Gambar 3. Merawat tanaman di bedeng. |
![]() |
![]() |
![]() |
| Gambar 4. Memberi pakan hijauan kepada kambing. | Gambar 5. Ayam dan unggas lain di dalam kandang. | Gambar 6. Seekor babi di kandang. |
Hal lain yang perlu diperhatikan ialah proses perawatan tanaman dan ternak. Merawat tanaman sayur bukan hanya soal menyiram dan memberi pupuk, tetapi juga menjaga kesuburan tanah, mengendalikan hama, dan memperhatikan kebutuhan setiap tanaman. Dengan perawatan yang teratur, kami dapat menghasilkan sayuran yang sehat, menghemat biaya, dan menjaga kelestarian lingkungan. Kandang ternak seperti kambing dan babi pun harus dirawat setiap hari dengan menjaga kebersihan dan kekeringan lantai, ventilasi, drainase, serta ketersediaan pakan dan air minum. Perawatan yang konsisten membantu menjaga kesehatan ternak sekaligus membentuk sikap disiplin dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
Lebih dari itu, bertani dan beternak merupakan kegiatan produktif yang dapat menjadi bagian dari pembinaan seorang misionaris Claretian. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan menghasilkan bahan pangan atau memenuhi kebutuhan ekonomi komunitas, tetapi juga melatih kedisiplinan, tanggung jawab, kemandirian, kerja sama, dan kepedulian terhadap alam. Dalam semangat Santo Antonius Maria Claret, seorang misionaris dipanggil untuk mewartakan Injil melalui perkataan dan tindakan nyata. Oleh karena itu, bertani dan beternak dapat menjadi sarana pembentukan diri agar seorang frater semakin siap melayani Gereja dan masyarakat, terutama mereka yang hidup dari hasil pertanian dan peternakan.
Pada akhirnya, bertani dan beternak bukan sekadar pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup, melainkan juga usaha nyata membangun kemandirian dan kesejahteraan masyarakat. Dengan semangat kerja keras, pengetahuan, dan kepedulian terhadap lingkungan, sektor pertanian dan peternakan dapat menjadi fondasi penting bagi kehidupan yang lebih baik. Oleh karena itu, generasi muda perlu didorong untuk memandang pertanian dan peternakan sebagai bidang yang menjanjikan, bermartabat, dan berperan strategis bagi masa depan bangsa serta pewartaan Injil.





