BATUGEDE-Tim peneliti dari Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) Kupang dan Instituto Superior de Filosofia e Teologia (ISFIT) Dili kembali melanjutkan agenda penelitian mereka pada hari ketiga, Selasa (15/9) pukul 8.30 TMT. Bertempat di Kapela Batugade, agenda kali ini difokuskan untuk mengkaji secara mendalam tradisi lokal yang hidup di tengah masyarakat perbatasan.
Fokus utama dari agenda hari ketiga ini adalah menggali perspektif masyarakat Batugade yang mayoritas beragama Katolik terhadap konsep Lulik. Selain itu, tim juga membedah bagaimana pemerintah merespons dan mengakomodasi kearifan lokal tersebut di tengah dinamika masyarakat modern.
Untuk mendapatkan data yang komprehensif, penelitian ini menghadirkan sejumlah narasumber kunci untuk diwawancarai. Para narasumber tersebut meliputi Pastor Paroki Balibo, Ketua Dewan Stasi Batugade, perwakilan dari pemerintah kecamatan, serta tetua masyarakat setempat.
Menanggapi persinggungan antara tradisi sakral dan agama, P. Arun Eka, SVD, memberikan pandangannya dari sudut pandang pastoral. Beliau menekankan pentingnya pendampingan agar konsep Lulik yang masih kuat dianut oleh umat tidak berbenturan dengan ajaran agama.
“Saya selalu mengarahkan umat agar konsep Lulik ini tidak bertabrakan dengan iman Katolik yang diyakini. Secara pribadi, saya juga seringkali bersikap kritis dan kurang percaya dengan mitos-mitos buta yang sekadar dipercayai oleh masyarakat,” ungkap Pater Arun.
Dari kacamata birokrasi, pemerintah menunjukkan sikap yang sangat terbuka dan akomodatif terhadap pelestarian budaya lokal. Perwakilan dari pemerintah kecamatan, Bapak Mateus Maia, menegaskan komitmen pemerintah dalam merawat kelestarian adat istiadat warga Batugade. Ia menjelaskan bahwa bentuk dukungan pemerintah dibuktikan secara nyata, bahkan hingga turut membantu memfasilitasi proposal kegiatan adat yang diajukan oleh masyarakat.
Diskusi dan penggalian data di Kapela Batugade tersebut memberikan banyak temuan berharga bagi kajian tim peneliti. Rangkaian kegiatan penelitian pada hari ketiga ini pun ditutup dengan penuh keakraban melalui acara santap siang bersama antara tim peneliti dan para narasumber. (Fr. Joaquin Fahik)