Weraihenek, 17 September 2026– Kelompok Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Bidang Filsafat kembali lagi menggelar kegiatan sosialisasi dan diskusi bersama dengan umat Paroki St. Yohanes Pemandi-Haliwen, secara khusus bagi umat di lingkungan St. Simeon Weraihenek dan lingkungan Sta. Maria Ratu Surga Weraihenek. Dalam pertemuan kali ini yang menjadi pemateri sekaligus narasumber adalah Rm. Yasintus Runesi. Beliau kali ini mencoba berbicara tentang bagaimana menghidupkan nilai-nilai keutamaan Kristiani (iman, harap, dan kasih) dalam setiap keluarga Kristiani di wilayah perbatasan lewat kacamata Filsafat.
Dengan tidak jemu-jemunya Rm. Sintus menegaskan bahwa keluarga adalah sel utama dalam tubuh Gereja dan masyarakat. Sebab keluarga sangat menentukan bagaimana tampang wajah Gereja dan masyarakat ditampilkan. Rm. Sintus menegaskan bahwa setiap keluarga Kristiani di daerah perbatasan harus mampu meneladani dan menghidupi spiritualitas keluarga kudus Nazareth (Yesus, Maria, dan Yoseph) di dalam rumah mereka masing-masing. Melanjutkan hal tersebut Rm. Sintus mengungkapkan bahwa: “bila dalam rumah orang tua sudah tidak lagi teguh dalam iman, maka anaknya pun akan cendrung demikian pula tidak teguh dalam iman.” Rm. Sintus menegaskan bahwa keluarga adalah sakramen dimana setiap individu (ayah, ibu, anak-anak) yang terdapat didalamnya dituntut untuk saling menguduskan satu sama lain.
Rm. Sintus menegaskan bahwa salah satu problem dunia milenial saat ini adalah banyaknya keluarga yang terpecah-belah akibat tidak menghidupi keutamaan nilai-nilai Kristiani didalamnya. Rm. Sintus menekankan agar kiranya rumah dapat menjadi tempat pertama untuk berlatih rasa tabah dalam diri. Menurutnya, banyak keluarga yang berantakan karena tak ada rasa untuk tabah dan saling mengerti satu sama lain dalam keluarga. Kemudian orang tua yang selalu mengikuti semua kemauan anak-anaknya dan tak pernah diajarkan untuk tabah mulai dari dalam rumah akan membuat anak-anak mereka sulit untuk bertahan dari tekanan dunia di luar rumah yang tak pernah selalu memberikan kenyamanan selayaknya di rumah. Kemudian dari sini Rm. Sintus menarik dan menghubungkannya dengan begitu banyaknya kasus bunuh diri di kalangan kaum muda karena tak mampu menghadapi tekanan dunia luar dan karena mereka yang tidak pernah melatih rasa tabah dalam diri mereka masing-masing.
Masyarakat atau umat yang hadir sangat bersemangat dalam mengikuti kegiatan ini. Kakek Yohanes Kabosu, berangkat dari pengalamannya dalam hidup berkeluarga memberikan wejangan kepada semua hadirin bahwa: “Seni yang paling indah adalah hidup berkeluarga. Lewat doa, keluarga mampu untuk terlepas dari segala hiruk-pikuk duniawi.” Menutup segala rangkaian diskusi bapak Yoseph Un menegaskan bahwa: “Keluarga adalah tempat pertama dan utama untuk belajar berbagai nilai. Malam ini kita harus berbahagia karena kebenaran pertama-tama bukanlah milik siapa-siapa, tetapi milik mereka yang sungguh-sungguh mencari dan mencintai kebenaran itu.”
Kegiatan kemudian ditutup dengan santap malam bersama sebagai bentuk ungkapan kebersamaan dan persaudaraan antar mahasiswa/i PKM Fakultas Filsafat bersama dengan umat sekalian. (Nandro Nadun)