Kamis, 10 September 2026- Mahasiswa/Mahasiswi PKM Fakultas Filsafat bidang Filsafat untuk keempat kalinya lagi melakukan kegiatan pembekalan kepada masyarakat lewat sosialisasi dan diskusi bersama dengan umat di paroki St. Yohanes Pemandi-Haliwen. Lokasi terjadinya kegiatan ini yaitu di halaman depan Kapela Karantina tepatnya di belakang stadion sepak bola Haliwen. Kegiatan ini dihadiri oleh umat dari tiga lingkungan yang masuk dalam wilayah Kapela Karantina yakni; lingkungan Bandara, lingkungan Lesepuh, dan lingkungan Stadion. Kegiatan ini dimulai dari pukul 18.00-21.20 WITA.
Kedua narasumber yakni Rm. Patris Neonub dan Rm. Sintus Runesi memulai kegiatan sosialisasi dan diskusi kali ini dengan menetapkan ensiklik Paus Leo XIV yakni “Magnifica Humanitas” (Kemanusiaan yang Agung) sebagai fondasi awal guna membangun dan menghidupkan diskusi kali ini. Rm. Sintus menegaskan bahwa: “selayaknya kisah menara Babel dalam Kitab Suci (terpecah-belah), manusia saat ini pun sudah terpecah-belah oleh karena batas-batas yang mereka ciptakan sendiri, sebab manusia punya kriteria tersendiri untuk dapat mengatakan seseorang sebagai sesamanya”. Melanjutkan hal itu Rm. Patris menekankan “Hal yang perlu dipahami adalah bagaimana seharusnya manusia menghargai manusia karena dia manusia, bukan menghargainya karena apa yang dia punya atau karena sesuai dengan standar kita.” Kedua narasumber sama-sama mau menegaskan bahwa perpecahan seringkali muncul karena adanya perbedaan pandangan manusia tentang arti dari kata sesama. Dalam konteks di wilayah perbatasan kali ini, kedua narasumber mengajak semua umat untuk menghindari perpecahan dan melihat perbedaan seperti sebuah lukisan yang indah karena banyaknya warna yang berbeda. Menutup pemaparan materi Rm. Patris menyuguhkan sebuah wejangan dari bahasa Tetun yaitu: “Fronteira haketak rai, maibé uma no fuan halo ita ida” (Perbatasan membelah tanah, tetapi rumah dan hati menyatukan kita).
Semua umat yang hadir begitu bergembira karena bisa mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang arti dari penghargaan atas sesama manusia dalam konteks daerah perbatasan yang dalam realitanya didiami oleh berbagai masyarakat dengan latar belakang suku, agama, budaya, ras, dan bahasa yang berbeda-beda. Kegiatan diakhiri dengan santap malam bersama.. (Fr. Nandro Nadun)