Sosialisasi Lectio Divina dan Pelatihan Fasilitator Katekese Kitab Suci di Desa Kabuna Haliwen, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu

HALIWEN-Mahasiswa/I fakultas Filsafat, Universitas Katolik Widya Mandira Kupang yang menjalankan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di Haliwen, Kabupaten Belu, menyelenggarakan kegiatan sosialisasi Lectio Divina (Bacaan Ilahi) dan pelatihan fasilitator katekese Kitab Suci kepada umat di wilayah Desa Kabuna pada Rabu, 9 September 2026. Rm. Siprianus Soleman Senda Pr, masih menjadi narasumber utama dan Frater Matheus Tnopo CMF menjadi moderator yang memoderasi jalannya kegiatan soisalisasi dan pelatihan yang terjadi pada pukul 18.00 WITA. Sebelum kegiatan ini dimulai, ketua coordinator PKM, Frater Fladimir Sie, OCD dan beberapa teman melakukan pretest untuk mengetahui seberapa jauh pemahaman umat tentang Lectio Divina dan bagaimana proses terjadinya kegiatan katekese selama ini yang sering mereka ikuti atau yang mereka bawakan.

Melalui pertanyaan yang dilontarkan oleh ketua koordinasi, dapat diketahui bahwa pemahaman umat tentang Lectio Divina belum memadai. Ada beberapa umat yang sudah mengetahui arti kata itu. Namun cara dan langkah-langkah mereka membaca Kitab suci dengan menggunakan metode lectio Divina dan manfaat orang membaca kitab suci dengan menggunakan metode tersebut belum mereka ketahui. Persoalan lain yang ditemukan adalah berkaitan dengan bagaimna cara menjadi fasilitator yang baik dan benar dalam membawakan sebuah katekese Kitab Suci. Umat mengakui bahwa fasilitator terkadang kurang kreatif dan terlalu terpaku pada teks, sehingga membuat mereka merasa jenuh dan kegiatan katekese kurang interaktif.

Semua persoalan di atas dijawab langsung oleh Rm. Sipri Senda selaku narasumber utama. Beliau membuka kegiatan dengan memberikan pertanyaan ringan yang mengundang umat untuk berpikir dan aktif dalam mencari jawaban dan bertanya sehingga kegiatan menjadi sangat dialogis dan interaktif. Umat mendapat pemahaman umum tentang Kitab Suci seperti: apa arti kata Deuterokanonika (penetapan kedua), jumlah kitab dalam Kitab Suci, pemahaman tentang surat-surat yang ditulis oleh Paulus dan latar belakang dari setiap penulisan. Selain itu juga umat mendapat informasi tentang pembagian tahun liturgi (A, B dan C). Umat pun banyak memberi pertanyaan seputar Kitab Suci, juga pengetahuan umum tentang sejarah Gereja. Salah satu contoh pertanyaan dari salah satu umat adalah “Murid Yesus berjumlah 12 orang, namun mengapa Petrus yang dipilih menjadi pemimpin dan mengapa para paus menjadi penggantinya? Dimana peran rasul-rasul yang lain?” Setelah memberikan beberapa pemahaman umum tentang Kitab Suci, romo kemudian memberikan pemahaman kepada umat berkaitan dengan tujuan awal sosialisasi yakni Lectio divina dan pelatihan katekese.

Lectio Divina dikatakan oleh romo merupakan langkah membaca dan merenungkan firman Tuhan yang sangat dianjurkan oleh Paus Benediktus ke XVI. Lectio Divina dilakukan dengan melalui empat tahap yakni tahap Lectio (baca), Meditatio (renung), Oratio (doa) dan actio (aksi). Umat juga dilatih bagaimna caranya menjadi fasilitator dalam membawakan katekese. Romo menegaskan bahwa katekese bukanlah kegiatan liturgis yang harus sopan, khusyuk dan tenang. Katekese merupakan suatu kegitan pengajaran iman, diskusi mendalami iman dan Kitab Suci secara bersama. Jadi kegiatannya harus bersifat dialogis-interaktif. Fasilitator bukanlah guru yang berbicara monoton dan bukan juga imam yang bertugas menasihati orang. Fasilitator hanya membantu memperlacar kegiatan katekese. Maka dalam membawakan katekese fasilitator menggunakan rumusan pertanyaan yang berpedoman pada 5W +1H. Dalam kegiatan katekese juga umat yang hendak mensharingkan pengalamannya tidak boleh menggunakan kata “kita” tetapi “saya” dan tidak perlu memberikan refleksi atas pengalaman yang baru diceritakan, biarkan setiap orang merefleksikan secara pribadi kisah diceritakan.

Umat mengakui bahwa ada kepuasan intelektual dan juga spiritual setelah mendapat penjelasan dari romo berkaitan dengan gambaran umum tentang Kitab Suci, Lectio Divina dan pelatihan cara menjadi fasilitator dalam membawakan katekese. Juga ada beberapa yang secara pribadi mengakui bahwa mereka sangat bersyukur bisa mengikuti kegiatan ini. Mereka merasa mendapatkan pencerahan dan kepuasan dari keraguan dan ketidaktahuan mereka selama ini berkaitan dengan bagaimana mereka dapat membaca dan merenungkan Kitab Suci dengan baik. Di akhir pertemuan, narasumber memberikan kepada umat nomor kontaknya, dengan tujuan agar jika ada umat yang masih bingung dan butuh penjelasan lebih mendalam tentang Kitab Suci dapat menghubungi beliau secara pribadi. Kegitan diakhiri dengan foto dan makan malam Bersama. (Fr. Arlis Meka,OCD)