WELIURAI– Di tengah kehidupan umat Katolik yang kian akrab dengan beragam bentuk doa dan praktik keagamaan, pertanyaan tentang makna dan posisi Devosi kembali mendapat perhatian khusus. “Masih Perlukah Devosi di zaman ini?”, pertanyaan tersebut menjadi tema utama sosialisasi putaran ketiga yang diselenggarakan oleh tim PKM bidang Teologi Fakultas Filsafat UNWIRA-kupang di kapela Weliurai, pada Rabu (9/9/2026). Kegiatan ini diikuti oleh umat dari lingkungan Weliurai, Manubaun, dan Bautasik. Ketiga lingkungan ini dihuni oleh mayoritas masyarakat yang merupakan pengungsi asal Timor Leste. Dalam kegiatan tersebut, Rm. Gregorius Antonio Mario Kanaf, Pr hadir sebagai narasumber utama, didampingi Fr. Cristian Jhamit sebagai moderator. Suasana kegiatannya berlangsung cukup hidup, karena umat tidak hanya hadir sebagai pendengar, tetapi turut mengambil bagian lewat pertanyaan-pertanyaan dan sharing singkat berdasarkan pengalaman iman mereka masing-masing.
Devosi memang sudah lama menjadi bagian dari kehidupan umat Katolik seperti doa Rosario, penghormatan kepada Bunda Maria dan para orang Kudus. Namun, perkembangan zaman menuntut umat kembali melihat apakah praktik-praktik tersebut sungguh membantu pertumbuhan iman atau justru sebaliknya malah berisiko kehilangan arah. Dalam pemaparannya, Rm. Rio Kanaf, Pr menjelaskan bahwa Devosi harus ditempatkan secara proporsional. Devosi merupakan bentuk penghormatan dan doa yang dilakukan umat berkaitan dengan Bunda Maria dan para orang Kudus, tetapi seluruh praktik tersebut pada akhirnya harus menghantar kepada puncak dari seluruh liturgi Gereja, yakni Ekaristi. Dengan demikian, Devosi tidak berdiri sebagai tujuan akhir dari kehidupan iman, melainkan sebagai jalan yang membantu umat semakin dekat kepada Allah. Penjelasan ini menjadi sangat penting, karena dalam praktek kehidupan umat Devosi terkadang dapat bergeser dari tujuan awalnya. Penghormatan kepada Bunda Maria, misalnya, tidak pernah menempatkan Maria sejajar dengan Allah. Oleh karena itu, Devosi kepada Bunda Maria semestinya membantu umat untuk semakin mengenal Allah dengan lebih benar, sebagaimana Maria sendiri menunjukkan sikap hormat dan ketaatannya kepada Allah Bapa.
Persoalan menjadi lebih serius ketika Devosi mulai bercampur dengan takhayul. Dalam sosialisasi tersebut, diberikan contoh praktik mencelupkan Rosario ke dalam air lalu meminum air tersebut dengan keyakinan akan memperoleh kesembuhan. Praktik semacam ini perlu dilihat secara lebih kritis karena dapat menggeser makna Devosi dari penghayatan iman menjadi suatu tindakan magis. Dalam konteks inilah pembinaan iman menjadi penting; umat perlu dibantu untuk membedakan antara penghormatan religius dan kepercayaan yang tidak memiliki dasar iman yang benar. Secara filosofis, persoalan tersebut menyentuh cara manusia memahami simbol. Simbol keagamaan pada dasarnya merujuk kepada sesuatu yang lebih dalam daripada dirinya sendiri. Rosario, patung, gambar orang kudus maupun berbagai bentuk devosi tidak seharusnya berhenti pada benda atau praktik itu sendiri. Ketika simbol justru menggantikan realitas iman yang hendak ditunjuknya, di situlah devosi berpotensi kehilangan maknanya. (Dimas Wungo)