TANAH MERAH, KUPANG – Masa duka di tanah Timor tak pernah benar-benar selesai dalam satu atau dua malam. Di Desa Tanah Merah, seminggu setelah kabar duka itu pertama kali terdengar, aroma tanah basah dan tabur bunga masih menyeruak. Beberapa anak nampak masih mengenakan kain hitam, sebuah simbol penghormatan terakhir bagi kerabat mereka yang telah berpulang.
Namun, di tengah suasana hening pasca-pemakaman, ada sebuah kehidupan lain yang berdenyut di tikungan jalan desa. Jumat (17/4/2026) sore, beberapa pasang mata kecil sudah berdiri di sana. Mereka tidak sedang bermain, melainkan menunggu suara deru mesin motor dari arah Penfui.
“Menunggu Frater datang,” seru mereka kompak saat para relawan mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira muncul di belokan jalan. Sebuah sambutan yang membuat beberapa relawan baru yang ikut bergabung sore itu tertegun, terkejut, sekaligus haru melihat betapa kehadiran mereka sangat berharga bagi anak-anak ini.
Di teras Rumah Baca Cakrawala, suasana mulai mencair. Meski beberapa anak masih absen karena tradisi tabur bunga, kehadiran mereka jauh lebih ramai dibanding minggu sebelumnya. Di sinilah “keajaiban kecil” itu terjadi.
Romi, salah satu anak yang paling vokal, tidak sabar untuk menunjukkan kebolehannya. Saat seorang frater sedang serius membimbing Jefri, Romi berkali-kali “menginterupsi” dengan wajah penuh semangat. Ia ingin membuktikan bahwa jemarinya kini lebih lincah menunjuk kata demi kata.
“Saya lagi, Frater!” serunya seolah tak mau kalah. Romi hari itu berhasil melahap tiga buku sekaligus. Meski masih berada di tahap transisi dari level kalimat menuju membaca lancar, semangatnya yang meluap-luap memberikan sinyal kuat bagi para fasilitator bahwa di dalam diri Romi, literasi bukan lagi sebuah beban, melainkan sebuah kebanggaan.
Namun, pemandangan paling menyentuh justru lahir tanpa rencana di sudut teras. El, seorang anak usia PAUD, nampak duduk serius di depan sebuah buku. Di sampingnya bukan seorang mahasiswa atau frater, melainkan kakak perempuannya sendiri yang masih duduk di kelas 2 SD.
Dengan penuh kesabaran, sang kakak membimbing adiknya mengeja huruf demi huruf. Sebuah adegan kaderisasi alami yang terjadi tanpa paksaan. Di sana, Rumah Baca Cakrawala bukan sekadar gedung atau program, melainkan ruang di mana keluarga saling memperkaya dan ilmu pengetahuan diwariskan dalam kasih sayang yang sederhana.
Hingga pertemuan keempat, tim masih menemukan banyak kendala dalam kegiatan, pengenalan, tingkah laku anak-anak, hingga peristiwa sosial seperti kematian dan duka yang ditandai dengan keheningan dan kain hitam. Namun, bagi para relawan, titik terang itu sudah mereka temukan setiap Jumat sore, pada binar mata Romi, pada kesetiaan Ka Rian, dan pada anak-anak yang setia menunggu di tikungan jalan.
Fase ini adalah fase mengenal hati. Sebelum nantinya mereka diuji secara formal dalam tiga bulan ke depan, para mahasiswa memilih untuk lebih dulu mengenal nama dan memetakan kemampuan anak-anak secara personal. Karena bagi para calon filsuf ini, pendidikan adalah soal perjumpaan manusiawi sebelum ia menjadi angka-angka di atas kertas laporan.
Tanah Merah mungkin masih berduka, tapi di teras kecil itu, cahaya pengetahuan perlahan-lahan mulai berpijar, menembus kain-kain hitam yang mereka kenakan.