TANAH MERAH, KUPANG – Deru mesin sepeda motor itu belum benar-benar berhenti di halaman sebuah rumah di Desa Tanah Merah, Neolbaki. Namun, sorak-sorai bocah-bocah kecil sudah memecah kesunyian sore di Kabupaten Kupang itu.
“Frater, Fraater!” pekik mereka girang. Tanpa komando, anak-anak itu berlari kecil, berebut menjemput dan mencium tangan para relawan mahasiswa dari Fakultas Filsafat Unwira yang baru saja menempuh perjalanan dari Penfui. Bagi mereka, kehadiran para frater, mahasiswa, dan mahasiswi sore itu bukan sekadar kunjungan tamu, melainkan “pesta ilmu” yang paling dinanti.
Jumat (10/4/2026), menjadi pertemuan ketiga bagi Tim PPK Ormawa BEM Fakultas Filsafat Unwira di Rumah Baca Cakrawala. Meski langit sempat muram dan hujan mencoba menghalangi niat, langkah para relawan ini tak surut.
“Meskipun hujan mencoba membatasi langkah kami dari Penfui, semangat kami untuk anak-anak Tanah Merah yang rindu belajar tidak akan padam,” ujar Nasya Ujan, salah satu relawan mahasiswi, dengan mata berbinar.
Sore itu sebenarnya tidak mudah. Sebuah kabar duka menyelimuti lingkungan sekitar. Seorang warga meninggal dunia tak jauh dari lokasi rumah baca. Di sisi lain, beberapa anak harus absen karena terlibat usaha dana dan latihan koor Gereja. Namun, pendidikan tidak mengenal kata tunda. Dengan jumlah anak yang tersisa separuh dari biasanya, kegiatan tetap berjalan dengan intensitas yang tak berkurang sedikit pun.
Di teras Rumah Baca Cakrawala, suasana berubah menjadi laboratorium mini. Tidak ada sekat kelas formal. Para relawan sudah memetakan level kemampuan anak secara personal: ada yang masih bergulat mengenal huruf, ada yang sudah mulai lihai merangkai suku kata, hingga mereka yang sudah masuk ke tahap membaca pemahaman.
Satu jam pertama menjadi waktu yang khusyuk. Selama 30 menit, anak-anak tenggelam dalam buku bacaan sesuai levelnya. 30 menit berikutnya, pena dan kertas mulai “beraksi”. Cakaran angka penjumlahan, pengurangan, hingga perkalian memenuhi lembar-lembar kertas. Mereka bahkan berebutan meminta soal dari para relawan yang mereka sapa dengan panggilan hangat “Frater” dan “Suster”.
Yang menarik dari pertemuan ketiga ini adalah mulai terlihatnya tunas keberlanjutan. Ka Rian, sang pemilik rumah baca, tetap setia menjadi tiang penyangga kegiatan, mengarahkan dan memfasilitasi setiap kebutuhan. Namun, kejutan justru datang dari para remaja SMA di desa tersebut. Mereka yang awalnya datang untuk belajar literasi-numerasi, perlahan mulai mengambil peran sebagai mentor bagi adik-adiknya. Saat memasuki jam kedua, yakni waktu untuk bermain, anak-anak SMA ini tanpa ragu memimpin latihan menyanyi, menari, hingga olahraga bola kaki. Mereka menjadi pelatih lokal, memastikan program ini tetap berdenyut meski mahasiswa suatu saat nanti harus kembali ke kampus.
Apa yang terjadi di Desa Tanah Merah adalah sebuah refleksi mendalam tentang masa depan Indonesia. Di teras rumah yang sederhana ini, cita-cita sedang dipupuk. Tantangan berupa jarak, cuaca, hingga situasi sosial desa tidak menjadi penghalang selama ada kemauan untuk saling berbagi.
Kegiatan ini membuktikan bahwa masa depan bangsa tidak hanya ditentukan di gedung-gedung megah di Ibu Kota, tapi justru dari teras-teras rumah baca seperti Cakrawala. Tempat di mana jari-jari kecil belajar mengeja harapan dan menghitung impian.
Bagi Tim PPK Ormawa Fakultas Filsafat Unwira, setiap peluh yang jatuh dalam perjalanan dari Penfui terbayar lunas saat melihat senyum anak-anak yang kini tak lagi takut pada angka dan huruf. Di Tanah Merah, mereka tidak hanya mengajar, mereka sedang menanam bibit perubahan yang akan terus tumbuh melampaui waktu.