Umat Bertanya Romo Menjawab

Umat : Romo, baru-baru saya ikut kegiatan online yang Romo bikin.

Romo: Kegiatan apa?

Umat: Bakisu, Baomong Kitab Suci tuh.

Romo: Oya, benar. Kita diskusi tentang Mengenal Surat-surat Paulus.

Umat: Itu dia. Makanya sekarang saya mau tanya, Romo. Karena sesudah kegiatan saya buka di Surat Roma 3:7. Bunyinya, “Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa?” Pertanyaan saya, “Dusta” seperti apakah yang dimaksudkan oleh Paulus dalam konteks ini?

Romo: Ayat ini sebagaimana ayat lain semestinya dibaca dan dipahami dalam konteks. Apa konteks Paulus ketika mengungkapkan pernyataan seperti. Maka kita melihat ayat ini dari ayat-ayat sebelum dan sesudahnya. Dari situ terbentuklah pemahaman kita mengenai maksud Paulus menggunakan kata dusta itu. Mari kita bersama. Kita lihat di ayat 4, Paulus mengutip dari Mazmur 51:6 bahwa semua manusia pembohong, kecuali Allah. Allah benar dalam segala firmanNya. Sedangkan manusia pembohong. Dari situ Paulus menegaskan bahwa kebenaran Allah tidak bergantung pada kebenaran manusia. Maka murka Allah atas ketidakbenaran manusia itu adil. Ketidakbenaran manusia sama dengan kebohongan manusia atau dusta manusia. Semua dusta manusia, termasuk Paulus, tidak mungkin menang di hadapan kebenaran Allah. Jika manusia mau beperkara dengan Allah, tetap Allahlah yang menang. Allah tetap adil dan benar. Semakin manusia berdusta, semakin Allah menang dalam kebenaranNya. Di sini, pemahaman mengenai ayat 7 menjadi jelas. Manusia, termasuk Paulus, pada dasarnya berdosa, atau suka berdusta, berbohong, tidak benar. Tetapi justeru oleh dusta manusia itu, kebenaran Allah makin terang benderang. Allah adil dan benar, maka manusia tak mungkin menang atas kebenaran Allah. Kebenaran Allah adalah kesetiaan Allah pada perjanjian. Maka meskipun manusia berdusta, Allah tetap setia pada perjanjianNya untuk menyelamatkan manusia. Jadi Paulus menggunakan istilah dustaku untuk mewakili dusta semua manusia di hadapan kebenaran Allah. Lihat konteksnya dari ayat 1-8. Demikian penjelasan.

Umat: Hmmm, agak berat tetapi saya sudah bisa pahami sedikit. Jadi harus dilihat konteks ya, baru bisa pahami.
Romo: Benar. Satu ayat tidak berdiri sendiri tetapi bersama ayat lain. Dia menyambung ayat sebelumnya dan sesudahnya. Maka perlu diperhatikan ayat lainnya untuk pahami.

Umat: Iya, ya? Dusta Paulus, dusta kita manusia, tidak mungkin mengalahkan kebenaran Allah. Justeru oleh dusta kita manusia, kebenaran Allah makin ditegaskan. Benar juga logika Paulus.
Romo: Itu ko tidak. Semoga terbantu.
Umat: Terima kasih, Romo. Sudah terbantu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *