Keluarga sehat, masyarakat sehat. Demikian sebuah ungkapan terkait kesehatan. Pada dasarnya semua manusia dalam sebuah masyarakat ingin sehat. Kesehatan itu penting bagi kelangsungan hidup manusia. Kesehatan masyarakat dimulai dari kesehatan pribadi-pribadi dalam keluarga. Jika semua keluarga sehat, maka dengan sendirinya masyarakat akan sehat.
Masalah kesehatan merupakan salah satu masalah dalam kehidupan keluarga. Tiada keluarga yang luput dari masalah kesehatan. Bahkan sejak dalam kandungan, masalah kesehatan telah terjadi. Salah satunya adalah masalah stunting yang akhir-akhir ini menjadi topic trending terkait kesehatan masyarakat.
Stunting adalah suatu kondisi anak yang mengalami gangguan/hambatan dalam pertumbuhan dan perkembangannya, karena kurangnya asupan gizi dan penyakit infeksi berulang dan tidak optimalnya stimulasi psikososial (Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi NTT: 2022, 24). Janin/bayi mengalami gagal tumbuh akibat akumulasi ketidakcukupan zat gizi yang berlangsung lama dari kehamilan sampai usia 24 bulan. Akibatnya terjadilah kondisi kurang gizi kronis yang ditandai dengan tubuh pendek pada balita (di bawah umur 5 tahun).
Fakta Stunting NTT
Angka stunting NTT terbilang tinggi. Provinsi NTT menurut data BPS, menempati urutan pertama rasio penderita gizi buruk tertinggi tahun 2018 (per 10.000 penduduk) yakni 9,7%. Sedangkan data dari studi status gizi balita kementrian kesehatan RI tahun 2019 juga menampilkan gambaran yang mirip. Provinsi NTT ternyata merupakan provinsi dengan angka prevalensi stunting tertinggi di Indonesia hingga mencapai 4,38% (hhtps://www.viva.co.id/amp/gaya-hidup/kesehatan-intim/1408949-miris-angka-stunting-di-ntt tertinggi-di-indonesia, diakses pada tanggal 14 Februari 2022, 09.00). Kenyataan ini membuat Gubernur Laiskodat berjuang menekan angka stunting dengan menggerakkan seluruh elemen masyarakat dan pemerintah agar bersinergi mengupayakan pencegahan terhadap stunting. Salah satu bentuk kepedulian memerangi stunting adalah kerjasama dengan Universitas Katolik Widya Mandira Kupang.
Pada tingkat kabupaten, khususnya di Kabupaten Kupang, terdapat grafik menurun sebesar 9,2% yakni dari 35% pada 2019 menjadi 25,8% pada 2020. Di tingkat provinsi juga, angka stunting menurun 2,2% dari 30,1% menjadi 27,9%. Penurunan angka stunting ini tidak terlepas dari program generasi bebas stunting melalui nutrisi edukasi keluarga menuju sehat (Gasing Nekamese) yang digelar Danome Indonesia pada pertengahan 2020 (hhtps://m.mediaindonesia.com/nusantara/392585/angka-stunting-di-kabupaten-kupang-turun-92, diakses pada tanggal 14 Februari 2022, 09.45 ).
Di Kelurahan Tarus sendiri, data stunting mencapai 22,8% pada tahun 2021. Data ini memperlihatkan bahwa masalah stunting di Tarus masih terus menjadi fokus perhatian di bidang kesehatan. Puskesmas Tarus terus berupaya memantau dan menekan angka stunting melalui pelayanan kesehatan ibu dan anak, khususnya melalui Posyandu. Dari penelusuran faktor penyebab stunting di Kelurahan Tarus, diperoleh gambaran bahwa faktor utama adalah kurangnya pemahaman orangtua, terutama pasangan suami istri yang baru memasuki lembaga perkawinan, mengenai stunting. Banyak kasus menunjukkan bahwa keluarga-keluarga muda tidak menyiapkan diri dengan baik untuk masuk pada kehidupan perkawinan. Tanpa pemahaman yang memadai mengenai kehidupan keluarga, khususnya pemahaman mengenai kesehatan ibu dan anak, maka yang terjadi adalah kehamilan tanpa asupan gizi yang cukup bagi ibu dan anak selama masa kehamilan.
Selain itu, faktor kesejahteraan keluarga juga berpengaruh. Pada keluarga prasejahtera yang mengalami kesulitan ekonomi rumah tangga, ketersediaan asupan gizi yang memadai menjadi persoalan pula. Banyak keluarga tidak mampu menyiapkan gizi yang cukup bagi ibu hamil dan bayi dalam kandungan, maupun setelah melahirkan. Ada dua poin utama yang menyebabkan stunting pada anak yaitu kurangnya asupan gizi selama hamil dan kebutuhan gizi anak tidak tercukupi (Nurlailis Saadah: 2020, 14). Persoalan ekonomi rumah tangga yang kurang mencukupi dapat menyebabkan kurang tersedianya asupan gizi, baik pada saat kehamilan maupun sesudah melahirkan.
Stunting Tarus Terus Menggerus?
Dari gambaran informasi dan pengamatan terhadap persoalan stunting di Kelurahan Tarus, dapat dicermati bahwa ada banyak persoalan yang menyertai persoalan stunting. Namun yang paling dominan adalah dua faktor yaitu minimnya pemahaman mengenai kesehatan keluarga dan minimnya sumber daya ekonomi untuk menopang kehidupan keluarga yang sehat dan sejahtera. Pemerintah bersama seluruh elemen masyarakat, dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Kupang sebagai promotor telah berupaya keras mengatasi masalah stunting. Pemberdayaan seluruh puskesmas di wilayah Kabupaten Kupang untuk melayani posyandu dan perhatian kepada kesehatan ibu dan anak menjadi program prioritas.
Puskesmas Tarus sendiri melalui pelayanan posyandu secara berkala telah mengupayakan sosialisasi stunting untuk memberikan pemahaman dasar kepada para ibu. Kehadiran para mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandira Kupang yang melaksanakan KKNT-PPM di Kelurahan Tarus turut membantu pelaksanaan sosialisasi stunting kepada masyarakat, khususnya para ibu di posyandu. Sosialisasi adalah sebuah cara untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman dasar mengenai stunting kepada para ibu. Hal ini penting untuk perubahan cara berpikir yang bermuara kepada perilaku sehat. Untuk itu, pemahaman dasar mengenai stunting melalui sosialisasi terus-menerus, kiranya menjadi program poros untuk mengurangi bahkan sampai pada tahap menghentikan stunting Tarus yang masih terus menggerus kesehatan masyarakat, khususnya ibu dan anak. Hal praktis yang menjadi acuan pencegahan stunting yaitu: memberikan pemahaman kepada keluarga pada umumnya untuk melakukan komunikasi yang sehat dalam keluarga, pencegahan sejak masa kehamilan dengan penyediaan asupan gizi yang memadai, penerapan IMD (inisiasi menyusui dini), imunisasi, ASI eksklusif, gaya hidup bersih dan sehat. Semua upaya praktis itu tersimpul pada meningkatnya pemahaman akan stunting dan solusinya. Pemahaman akan bermuara kepada perubahan perilaku. Perubahan cara berpikir akan berbuah pada perubahan cara bertindak. Dengan demikian para ibu yang telah memahami masalah stunting dan kiat-kiat sederhana dan praktis dapat dilakukan dalam kehidupan keluarga untuk memperhatikan kesehatan anggota keluarga.
Harus diakui bahwa persoalan ekonomi rumah tangga juga berpengaruh besar kepada kesehatan keluarga. Dari pengamatan kami selama KKN, ditemukan bahwa persoalan ekonomi rumah tangga juga cukup dominan. Umumnya warga masyarakat Kelurahan Tarus berprofesi sebagai petani (sedikit pemilik, kebanyakan penggarap), penjual sayur, tukang, buruh dan lain-lain yang berpenghasilan pas-pasan bahkan kurang untuk kehidupan sejahtera. Tidak heran kalau anggaran untuk kesehatan kurang mendapat perhatian dan prioritas. Yang penting adalah cukup makan untuk sehari. Untuk itu perlu pula program pemerintah terkait pemberdayaan ekonomi warga di bidang pertanian dan lain-lain. Pemerintah perlu secara serius memperhatikan potensi warga dan membantu dengan program yang tepat sasar untuk pemberdayaan ekonomi warga. Potensi pertanian cukup besar, tetapi tidak diimbangi dengan pengelolaan sistem pertanian yang memadukan teknologi untuk mendapatkan hasil yang meningkat secara kuantitatif dan kualitatif. Perlu pula tindak lanjutnya berupa pemasaran online dengan bantuan teknologi komunikasi sehingga mendapatkan hasil yang baik. Pengelolaan ekonomi rumah tangga pun perlu mendapat perhatian serius. Manajemen ekonomi rumah tangga yang benar akan membawa dampak pada ketersediaan selalu anggaran untuk kesehatan seluruh anggota keluarga, khususnya kesehatan ibu dan anak.
Apakah stunting Tarus akan terus menggerus warga? Jawabannya terpulang kepada warga dan pemerintah setempat untuk berkolaborasi dengan seluruh elemen terkait untuk mencegah peningkatan angka stunting, sekaligus mengupayakan kesejahteraan keluarga melalui pemberdayaan ekonomi dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam secara kreatif dan inovatif. Keluarga sejahtera, masyarakat sejahtera. Keluarga sehat, masyarakat sehat.
Sumber:
Nurul Imani, Stunting Pada Anak: Kenali dan Cegah Sejak Dini, Yogyakarta: Pustaka Mandiri, 2020.
Nurlailis Saadah, Modul Deteksi Dini Pencegahan dan Penanganan Stunting, Surabaya: Media Pustaka, 2020.
hhtps://www.viva.co.id/amp/gaya-hidup/kesehatan-intim/1408949-miris-angka-stunting-di-ntt-tertinggi-di-indonesia
hhtps://m.mediaindonesia.com/nusantara/392585/angka-stunting-di-kabupaten-kupang-turun-92
[TEAM_B id=1148]