Namanya Berdy Steven Wohangara. Kami biasa menyapanya dengan nama Berdy. Setelah puluhan tahun berpisah setamat SMP Negeri 1 Soe, akhirnya kami bisa reuni di Jakarta. Dengan Alfred Selan yang disapa Mesakh juga. Dia datang dengan istrinya, Djatmi. Teman yangvtidak bisa bergabung ialah Yanti Kaesmetan di Kerawang, dan Dominggus Selan yang nyaris tak punya waktu karena bekerja jauh di Tangerang. Yoka Asbanu tidak ada berita. Jadilah kami berempat saja: Alfred alias Mesakh Selan dengan istrinya Maria, Berdy dan saya. Reuni kecil tapi bermakna.
Kami ngobrol tentang banyak hal. Tapi yang utama adalah mengenai kisah hidup Berdy. Di SMP dulu kami mengenal Berdy sebagai murid yang cerdas, supel, komunikatif, berani, berjiwa pemimpin. Hampir setiap upacara bendera, dialah yang menjadi komandan upacara. Setiap kegiatan pramuka, dia selalu terdepan. Hal-hal itu masih kelihatan sampai sekarang. Meski lama tidak berjumpa, tapi kesan kami terhadapnya tidak berubah. Dia tetap supel, komunikatif, cerdas dan berjiwa pemimpin.

Saya bertanya tentang kisah hidupnya, bagaimana sampai tinggal dan bekerja di Solo. Setamat SMA di Soe, dia lanjut kuliah di Politani Undana. Berbekal ijazah sarjana pertanian, dia merantau ke Solo atas ajakan Richard Daniel. Dia dimasukkan ke salah satu NGO yang bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat desa. Gita Pertiwi namanya. Karena kinerjanya bagus, kariernya terus meroket. Dia mendapat kesempatan belajar di Filipina selama setahun. Bidang pertanian, khususnya proses menghasilkan bibit unggul melalui perkawinan silang. Balik dari Filipina, tugasnya semakin banyak terutama mendampingi masyarakat desa untuk pemberdayaan potensi pertanian.
Dalam perjalanan waktu, dia ikut terlibat dalam penyelesaian konflik tanah masyarakat dekat hutan. NGO-nya ikut ambil bagian dalam penyelesaian konflik tanah antara perusahaan dan masyarakat desa. Kemampuan komunikasinya terasah baik. Begitu banyak kasus diselesaikan dengan pendekatannya yang komunikatif.

Atas prestasinya, dia mendapat beasiswa dari Ford Fondation untuk belajar di Thailand mengenai manajemen konflik dalam masyarakat. Satu tahun belajar, dia lulus dengan predikat terbaik. Kembali ke tanah air dia bergabung dengan NGO internasional yang berpusat di Swiss. Namanya The Forest Trust atau Earthworm Fondation. Pekerjaaannya makin banyak. Dalam setahun dia bisa berkeliling ke pelbagai daerah di Indonesia untuk menyelesaikan konflik antara masyarakat dan perusahaan. Banyak kisah menarik diceritakannya saat melaksanakan tugas ke daerah-daerah. Pernah dia diminta untuk bertemu dengan sekelompok masyarakat di hutan yang mempertahankan tanah mereka di Riau, di pedalaman Sumatra. Masyarakat itu bersenjatakan parang, tombak dan sabit. Polisipun kewalahan menghadapi mereka. NGO mengutus dia ke hutan, ketemu kelompok tersebut. Dia sendirian. Dia diberi waktu tiga hari. Bila tidak kembali berarti, dia selesai.
Dasar pemberani dan komunikatif. Dia berdialog dengan para utusan. Dia minta ketemu dengan kepala suku atau kepala kelompok tersebut. “Saya tidak akan bicara dengan siapapun, selain kepala suku.” Dengan tegas dia ungkapkan hal itu. Mereka lalu membawanya ke tengah hutan hanya menggunakan sepeda motor. Perjalanan ditempuh dalam waktu 8 jam. Akhirnya tiba di rumah kepala suku. Mereka persilakan dia masuk, tetapi dia menolak. Dia minta kepala suku itu keluar dari rumah dan bertemu dia di luar.

Kepala suku itu keluar. Keduanya bertatapan mata. Beradu pandang. Berdy pemberani tetap menatap matanya tanpa berkedip. Akhirnya kepala suku itu mengalah dan mempersilakan dia masuk rumah. Berdy telah mengalahkannya.
Dalam komunikasi dan dialog intensif, dia berhasil meyakinkan masyarakat dan memberikan win-win solution yang adil untuk mereka. Semuanya senang. Kepala suku itu berterima kasih. Sejak itu dia bersahabat baik dengan mereka. Jika ada persoalan lagi, mereka hanya minta dia menjadi mediator. “Kami tidak mau orang lain. Kami hanya mau Pak Berdy yang menjadi mediator.”
Demi kelancaran tugasnya sebagai mediator konflik, dia harus menjalani pendidikan mediasi konflik di Mahkamah Agung dan mendapat sertifikat yang menjadi lisensi baginya untuk memediasi konflik masyarakat dan perusahaan di manapun di Indonesia. Bahkan sertifikat itu berlaku pula di negara-negara Asean. Maka dia juga bisa menjadi mediator konflik di negara Asean lainnya bila diutus oleh NGO-nya.
Berdy kini tinggal di Solo bersama keluarga kecilnya: istri dan tiga anak, dua putri satu putra. Rumahnya dekat dengan rumah pak Jokowi. Kantor NGO ada di Jakarta. Maka setiap kali mendapat tugas, dia berangkat dari Solo. Itulah sebabnya, kita selalu melihat postingannya di Facebook maupun WA Grup SMP. Sebentar di sini. Sebentar di sana. Jam terbangnya memang tinggi. Istrinya dari Madiun. Lama tinggal di Solo, Berdy pun fasih berbahasa Jawa. Hal ini menjadi keuntungan juga baginya dalam tugas mediasi konflik. Pernah dia berhadapan dengan kelompok masyarakat di Sumatra yang konflik dengan perusahaan. Dia berjumpa dengan sang ketua kelompok. Saat berdialog basa basi mengenai asal usul, orang itu menjelaskan bahwa dia berasal dari Ponorogo. Berdy langsung berbahasa Jawa. Suasana tegang langsung cair. Dengan kelakar bahasa Jawa, dia meledek orang itu bahwa klaim yang bersangkutan mengenai tanah adat terasa lucu karena dia berasal dari Jawa. Memang dia sudah puluhan tahun tinggal di situ, dan menyebut tanah itu sebagai tanah adat. Berdy berseloroh, mungkin dia bawa tanah itu dari Ponorogo. Semua tertawa. Dialog penyelesaian konflik selanjutnya lebih lancar dengan hasil win-win solution.
Itulah Berdy Wohangara. Teman kami yang luar biasa. Kepadanya saya titip pesan untuk mengkaderkan anak-anak TTS di bidang kerjanya. Agar sesudah dia, ada yang melanjutkan. Kita berharap, semoga kisah Berdy menjadi inspirasi bagi orang muda TTS untuk berani berjuang menjajal potensi dan kompetensi diri. Pasti bisa.

Saya juga meminta Berdy yang punya jaringan luas dengan banyak Perguruan Tinggi di Jawa agar membantu membuka jalan bagi anak-anak berprestasi dari TTS untuk studi di sana. Misalnya di UGM. Dia menyanggupi hal ini. Teman-teman di Soe yang mengetahui anak-anak kita yang berprestasi akademik tinggi supaya merekomendasikannya kepada Berdy. Siapa tahu ada juga yang mampu mengikuti jejaknya bisa berkiprah di tingkat Nasional, bahkan Internasional.
Kami berpisah setelah makan malam ayam lalapan di kuliner kaki lima. Kali ini Berdy mentraktir kami. Ada banyak kisah yang diungkapkannya. Saya hanya bisa mencatat sebagian kecil ini. Semoga bermanfaat dan inspiratif bagi siapapun yang membaca catatan ini.
Kepada Berdy dan Mesakh saya berikan buku Kisah Pagi sebagai kenang-kenangan. Juga untuk Yanti dan Minggus. Sampai jumpa lagi. Semoga ada kesempatan reuni lagi dengan banyak peserta. Tuhan memberkati kita semua.

RD Sipri Senda
Pesawat Lion Air Jakarta-Surabaya, 10 Januari 2024