Catatan Akhir: Perjalanan Pulang Penuh Makna

 

Para gembala telah pergi bertemu Bayi Yesus di kandang natal. Mereka menyaksikan bahwa apa yang dikatakan malaikat itu benar semuanya. Maka pulanglah mereka dengan sukacita seraya memuji Allah.

Tak terasa seminggu hampir berlalu. Perjumpaan dengan Bayi Yesus dalam perayaan natal di Paroki Lapok kali sungguh berkesan. Sebagaimana para gembala yang pulang dengan sukacita. Demikian juga saya pulang ke Kupang dengan sukacita seraya memuji Allah yang mengatur semuanya indah pada waktunya.

Tanggal 29/12. Setelah istirahat yang cukup semalam, saya bangun pukul 05.00 pagi. Father Kevin telah berpesan, bahwa misa pukul 07.00 pagi. Saya mengemasi barang-barang, lalu mandi, ibadat, dan siap misa pagi bersama father Kevin. Ternyata pagi ini kami berdua saja yang misa. Umat tidak ada yang datang. Rupanya mereka libur Krismas. Saya pimpin misa, didampingi Father Kevin. Saya mempersembahkan syukur kepada Tuhan atas pengalaman merayakan Krismas di Lapok, Bakong dan Long Jegan. Saya berdoa untuk seluruh umat bersama kedua gembala mereka, Father Joseph dan Father Philip. Tak lupa pula doa untuk Father Kevin yang memungkinkan saya bisa sampai ke Miri dan Lapok. Tuhan memberkati mereka semua.

Setelah misa kami ke warung untuk sarapan. Pilihan pagi ini bihun kuah, rasa kari, sedikit pedas dan pakai sumpit. Untung sudah lulus “ujian memakai sumpit”. Maka tidak kesulitan lagi saat sarapan pagi ini. Minumnya kopi O untuk Father Kevin dan teh panas untuk saya. Di sini, kalau bilang teh, itu berarti teh campur susu. Kalau mau teh seperti di Indonesia, maka harus sebut teh kosong. Ini baru teh saja, tanpa susu. Segelas teh panas sudah cukup bagi saya untuk menghangatkan perut yang sudah hangat juga oleh bihun panas di pagi hari. Semua rezeki jasmani ini dinikmati dengan penuh syukur. Pagi ini, setelah menerima santapan rohani dalam Ekaristi suci, kami berdua menguatkan tubuh dengan rezeki jasmani ini. Kebutuhan rohani dan jasmani dipenuhi. Tuhan itu baik.

Pagi ini tidak ke mana-mana. Saya masih merasa lelah. Maka kembali dari rumah makan, saya memilih istirahat di kamar, berkemas dan melihat beberapa jurnal untuk kemungkinan pengiriman artikel penelitian bersama mahasiswa. Ternyata dari template yang ada, perlu ada beberapa perbaikan dan penambahan literatur. Ini berarti harus dikerjakan di Kupang. Masih ada masa (waktu) untuk perbaikan. Maka saya lanjutkan menulis catatan pengalaman Natal di Lapok dan Bakong, juga pengalaman semalam di Long Jegan. Sedikit demi sedikit. Penuntasannya akan dilakukan di ruang tunggu bandara.

Pukul 12.00 Father Kevin mengirim WA untuk makan siang di warung dan selanjutnya ke bandara. Saya ibadat siang dulu, lalu mengemas barang-barang. Siap untuk berangkat menuju Kuala Lumpur. Kami berdua menuju rumah makan Chinese dengan menu daging babi aneka olahan. Setiap pelanggan tinggal menunjuk lauk dan akan dilayani oleh pemilik warung. Minumnya seperti biasa, kopi dan teh. Masakannya enak. Mirip dengan masakan Aci Mery di Kupang. Terutama kiunyuk dengan kuping tikus yang lezat.

Setelah makan siang, kami bergerak menuju bandara. Father Kevin mengusulkan sebuah kegiatan seminar kitab suci untuk Parokinya. Semoga bisa terwujudkan. Di pintu keberangkatan domestik kami berpisah. Terima kasih, Father Kevin. See you next. Bila ada masa, kita boleh berjumpa lagi.

Karena sudah dibuatkan check in online oleh Father Kevin maka saya tidak perlu antri lagi di konter Air Asia. Saya langsung ke ruang tunggu. Masih banyak masa (waktu). Kesempatan untuk menyelesaikan catatan Natal di Lapok dan Bakong. Waktu berlalu, tulisan demi tulisan diselesaikan. Tak ada waktu yang terbuang sia-sia. Santo Yohanes Paulus II pernah mengatakan, “Waktu lewat, keabadian melekat”. Keabadian itu mewujud dalam hasil karya kreatif yang terukir dalam kenangan. Memang benar, apa yang dikatakan pepatah Latin, verba volant scripta manent. Kata-kata melayang lenyap, tulisan tinggal menetap.

Dengan menulis seperti ini, waktu panjang di ruang tunggu tidaklah membosankan. Malah ketika panggilan untuk boarding dimulai, saya masih menyelesaikan ide yang mengalir deras. Selanjutnya akan dituntaskan di atas pesawat. Tetapi tetap disadari bahwa pada pukul 15.00 petang, aktivitas menulis dihentikan sementara. Doa kerahiman dan koronka dulu. Sesudah itu baru dilanjutkan.

Di atas pesawat ke Kuala Lumpur, saya menyelesaikan catatan Natal yang berikut. Banyak hal menarik yang tersimpan di memori, mengalir keluar dalam kisah tertulis untuk dibagikan ke publik. Kisah sederhana, tapi bagi saya sangat bermakna. Maka menulisnya merupakan sebuah ikhtiar sadar untuk mengawetkan kisah itu dalam memori pembaca, terutama mereka yang berada di Lapok, Bakong dan Long Jegan. Juga Miri.

Di bandara Kuala Lumpur, penantian panjang pun terjadi. Kesempatan untuk menulis tetap tersedia. Saya mengurus lebih dahulu barang-barang yang harus diatur sekian sehingga berat koper yang dibawa ke kabin tak boleh lewat dari 7 kg. Ada dua tempat pengaturan yang disediakan pihak bandara. Saya menuju salah satu yang agak sepi. Koper ditimbang. Ternyata 8,6 kg. Maka sebagian barang berupa oleh-oleh dari Lapok dan buku Ruakh dipindahkan ke tas laptop. Timbang lagi dan hasilnya 7,4 kg. Bisa lolos di bagian pemeriksaan berat koper saat masuk ke ruang tunggu. Encik yang memeriksa melihat angka 7,4 kg dan memberi keleluasaan untuk lanjut ke bagian pengecekan boarding pass. Selanjutnya ke bagian imigrasi. Lalu pemeriksaan X-ray. Saat melewati pintu scanning ada bunyi. Petugas pria memeriksa tubuh saya dengan alat pendeteksi logam, tak ada apa-apa. Ternyata bunyi dari pen penyangga tulang yang patah. Saya tidak perlu jelaskan karena dia menyuruh saya lanjut.

Di ruang tunggu menuju gate Q13, saya menyempatkan diri untuk makan malam, nasi ayam. Kemudian jalan keliling mencari tempat duduk yang ada recharge hp. Infomasi dari pihak Air Asia, pesawat ke Kuala Lumpur delay. Bergeser ke pukul 11.35 malam. Saya juga mendapat informasi WA dari Father Kevin. Tak ada rasa kecewa. Saya kembali fokus pada menulis sampai cape.

Kurang 45 menit boarding saya menuju pemeriksaan security terakhir sebelum masuk ke gate Q13. Pemeriksaan berjalan lancar. Di dekat gate Q13 sudah banyak penumpang Air Asia menuju Denpasar. Saya mencari tempat duduk yang dekat recharge hp. Sambil menunggu, saya selesaikan tulisan Catatan Natal dari Lapok. Akhirnya pintu dibuka. Kami masuk ke ruang tunggu. Saya mendapat zona 2. Duduk di bagian belakang, nomor kursi 22-32.

Pesawat dari Denpasar tiba. Kami bersiap boarding. Pukul 11.55 pesawat Airbus A380 menembus langit malam Kuala Lumpur. Menuju Denpasar. Di udara, tengah malam, saya menulis lanjutan kisah Natal di Lapok. Tidur ayam sejenak. Pukul 03.00 dinihari. Pesawat siap mendarat. Saya mendaras doa koronka. Landing dengan selamat. Akhirnya tiba kembali di tanah air. Pemilik penginapan menjemput saya. Bisa istirahat 3 jam sebelum lanjutkan ke Kupang dengan Lion Air.

Pukul 09.00 saya bersiap ke bandara lagi diantar oleh pak Made, pemilik penginapan. Pukul 10.35 boarding. Saya masih sempat makan pizza lantaran lapar. Di atas pesawat menuju Kupang, saya selesaikan tulisan seri kelima. Semalam di Long Jegan. Tiba di Kupang pukul 12.55. Frater Pier menjemput saya. Katana membawa pulang saya ke kamar 01 Unit Ibrani. Sweet room, sweet home. Long trip dari Long Jegan, akhirnya selesai di Unit Ibrani. Tuhan mengatur semuanya baik pada waktunya. Setelah berjumpa dengan Bayi Yesus dalam perayaan Natal di Sarawak, akhirnya pulang dengan membawa sukacita Natal. Kemuliaan bagi Allah mahatinggi, dan damai sejahtera di bumi bagi manusia yang berkenan pada-Nya. Amin

(Tamat)

 

RD Sipri Senda

Diselesaikan di Kapan, rumah tua yang legend

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *