Tubuh Kecil Berjiwa Besar

0 71

Namanya Tetty Lulan. Teman kelas saya waktu kami di SMP Negeri 1 Soe TTS. Masuk tahun 1983. Tamat 1986. Berpisah selama puluhaan tahun. Dan akhirnya ketemu lagi di Kuta, Bali, 4 Maret 2023.

Setamat SMP, saya ke Atambua untuk masuk Seminari Lalian. Tetty bersama teman-teman lainnya ke SMA Negeri 1 Soe. Dalam jumpa kembali setelah 38 tahun berpisah, dia ceritakan pengalaman hidupnya yang unik dan menarik.

Setamat SMA, dia tidak melanjutkan kuliah mengingat orang tuanya susah. Karena itu dia berniat mencari kerja. Soe tidak memungkinkannya untuk bekerja. Apalagi, cita-citanya harus bekerja di tempat yang berbahasa Inggris. Maka dia putuskan harus merantau ke Kupang. Suatu hari, di tahun 1989, dia menghilang dari rumah tanpa beritahu siapapun. Di Kupang, dia bekerja sebagai pembantu rumah tangga di sebuah homestay di Airnona. Di sini dia bekerja selama dua tahun sambil memperdalam bahasa Inggris secara mandiri. Dengan hanya mengandalkan hafal kata setiap hari, dia berusaha berbicara dengan tamu homestay mancanegara. Secara perlahan dia makin lancar berbahasa Inggris.

Tahun 1991, dia ingin mengadu nasib di kota lain, di pulau lain. Semula dia ingin ke Flores, di danau Kelimutu agar berjumpa dengan turis asing dan bisa berkomunikasi bajasa Inggris. Tapi tidak jadi. Ada yang mengatakan lebih baik ke Lombok saja. Maka dia putuskan berhenti bekerja di homestay dan berangkat ke Lombok dengan kapal laut. Dalam perjalananan itu dia berusaha berkomunikasi dengan siapa saja yang bisa diajak bicara, terutama bahasa Inggris. Aada seseorang menyarankan dia untuk ke Bali saja, karena peluang untuk bertemu turis lebih besar daripada di Lombok. Akhrinya dia tidak jadi turun di Lombok. Dengan kapal yang sama dia lanjut ke Bali.

Tiba di pelabuhan dia bingung karena tidak ada satupun orang yang dikenalnya. Maka dia duduk dan menangis sejadi-jadinya. Meskipun menangis, dalam hati dia tetap berdoa mohon Tuhan Yesus tolong. Pada titik dia mana dia nyaris putus asa karena tak ada orang yang bisa membantunya, datanglah seorang pensiunan tentara asal Rote dan menanyakan padanya nama serta asal usul dan mau ke mana. Sambil menangis dia menceritakan semua yang ditanyakan. Pensiunan tentara yang kini bekerja sebagai satpam di Bali itu tergerak hati dan mengajaknya untuk tinggal di rumahnya sambil cari kerja. Puji Tuhan. Pertolongan Tuhan tepat waktu. Dengan sukacita dia mengikuti penolongnya itu.

Selama tinggal rumah itu, dia berjuang setiap hari berjalan kaki untuk cari kerja. Lamar ke sana ke mari tapi tak ada yang bersedia menerima dia bekerja. Suatu hari dia melihat sebuah tempat kursus bahasa Inggris. Dengan modal nekat dan sisa uang yang ada padanya, dia ikut kursus sambil terus mencari kerja. Karena sangat suka belajar bahasa Inggris dengan kemauan yang kuat, maka dalam waktu singkat dia berhasil menguasai grammar dan berbicara dengan fasih. Ketika ada lomba bahasa Inggris di Jakarta, lembaga kursusnya mengutus dia ke sana untuk ikut lomba dan dia berhasil menyabet juara 1. Hadiahnya lumayan besar waktu itu, dengan sertifikat yang kelak akan berguna baginya untuk mendapatkan pekerjaan.

Tak terasa hampir setahun dia di Bali dan masih berkeliling mencari kerja.

Suatu hari di tahun 1992. Dia membuka Bali Post dan melihat ada pembukaan lowongan kerja di Hotel Grand Hyatt Bali yang baru buka dan membutuhkan tenaga kerja sebanyak 40 orang. Dia berjalan kaki dari rumah menuju lokasi di Nusa Dua. Jauh sekali. Jam 04.00 pagi dia bangun dan berangkat, jam 11.00 baru tiba di hotel. Di sana telah berkumpul ratusan pelamar kerja. Melihat itu, dia langsung patah semangat karena sadar bahwa dia tidak akan mampu bersaing dengan para pelamar kerja lain yang lulusan akademi pariwisata. Maka dia ikuti tes dengan gaya main gila. Dia yakin tidak diterima maka semua pertanyaan dijawab tertulis dengan jawaban yang lucu, aneh dan membingungkan. Misalnya, lulusan dari mana, dijawabnya dari sekolah tidak jelas. Pengalaman kerja, berkeliling cari kerja tapi belum dapat juga. Pernah kerja di kantor mana, dijawabnya kantor pertanyaan. Dia kumpulkan hasil tes dan menunggu wawancara. Gilirannya jam 3 sore. Dia sudah kelaparan karena pagi tidak sempat makan, siang pun tidak makan. Apa boleh buat, tahan lapar saja menunggu giliran wawancara sambil berdoa dalam hati, Tuhan Yesus tolong.

Giliran wawancara tiba. Dia masuk ruangan dan duduk di hadapan GM orang Korea dan seorang asisten orang Bali. Pertanyaan pertama langsung membuat kedua orang itu tertawa, karena how are you dijawab polos apa adanya oleh Tetty demikian, “I am fine, but very hungry now.” Mereka kemurdian tanya semua asal usul dan riwayat pendidikan serta pengalaman kerja, dia jawab apa adanya sesuai yang ditulis. Ketika diminta jelaskan apa maksudnya dia jawab dengan melucu sehingga GM dan asisten itu tertawa terpingkal-pingkal. Misalnya ketika diminta jelaskan apa maksudnya Kantor Pertanyaan, dia jelaskan bahwa kantor itu adalah kantornya sendiri, karena dia selalu bertanya mengenai pekerjaan dan tak ada jawaban pasti hingga sekarang. Tak ayal jawaban itu membuat kedua pewawancara terbahak-bahak.

Akhirnya tanpa basa-basi dia langsung bertanya ke GM, “Apakah saya diterima bekerja?” GM balik bertanya, “Mengapa engkau tanyakan hal itu?” Tetty menjawab, “Saya ingin tahu pasti, supaya kalau memang saya tidak diterima di sini, maka saya mau pergi cari kerja di tempat lain.”

GM mengatakan, hari Senin datang lagi baru dapat jawaban.

Hari Senin. Seingatnya tanggal 18 Mei 1992. Dia menuju hotel. Di sana sudah ada yang datang pula. Mereka dikumpulkan di satu ruangan. Sebanyak 40 orang. Dia belum sadar bahwa dia diterima. Mereka dibriefing mengenai hotel. “Hotel kita ini demikian. Hotel kita ini seperti ini.” Akhirnya dia tidak tahan dan angkat tangan minta bicara. “Ibu, dari tadi ibu bicara ini selalu bilang hotel kita, hotel kita. Saya mau tanya ini maksudnya milik siapa hotel ini? Apakah saya punya juga?” Langsung seisi ruangan tertawa mendengar pertanyaan konyol ini. Setelah dijelaskan bahwa dia sudah diterima dan menjadi bagian dari hotel ini, barulah dengan spontan dia berseru: “Halleluya!Puji Tuhan!”

Sejak saat itu dia bekerja dengan baik dan mendapat gaji yang baik. Dia kirim wesel ke orang tua di Nule. Saat itulah mereka di kampung tahu bahwa dia ternyata masih hidup.

Karena kerjanya dan bahasa Inggrisnya bagus maka secara perlahan dia naik posisi dari paling bawah hingga posisi atas. Bahkan dia pernah menjadi GM di beberapa hotel lain setelah berhenti dari Grand Hyatt Hotel. Itulah secuil pengalaman teman Tetty Lulan. Kisahnya hidupnya luar biasa. Hanya bermodal nekat dan kemauan keras, akhirnya dia mencapai keberhasilan di tanah rantau. Badan kecil bernyali besar.

Dia sudah menikah. Istrinya orang Bali. Anaknya tiga orang, dua cowok satu cewek. Setelah malang melintang di dunia perhotelan, kini dia berkecimpung di dunia pendidikan. Dia menjadi guru di SMK Perhotelan, mengajar bahasa Inggris. Saat ini dia sudah menyelesaikan S1 dan akan melanjutkan S2.

Bro Tetty, sukses selalu buatmu. Perjuanganmu sungguh inspiratif. Ulet, tahan bantingan, gigih, rajin, kreatif, optimis, selalu andalkan Tuhan Yesus. Semuanya itu membawamu mencapai keberhasilan. Mendengarkan kisahmu di hari perjumpaan kita setelah 38 tahun berpisah rasanya sangat menakjubkan. Sayang sekali waktu kita terbatas. Tapi kita akan jumpa di lain kesempatan. Tuhan memberkati.

 

Lion Air, 5/3-2024

Comments
Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More