Semalam di Tanjung Karang

0 103

Tanggal 12/6 saya mendapat kepercayaan dari Mgr Rony untuk mengantar Diakon Ari dan Diakon Oswyn ke Tanjung Karang. Di sini saya berjumpa dengan orang-orang luar biasa yang kaya perspektif hidup. Mulai dari Uskup, para pastor hingga karyawan Komsos.

Mgr. Avien sebelum menjadi Uskup Tanjung Karang bekerja sebagai imam diosesan Keuskupan Agung Palembang. Beliau menangani 3 komisi sekaligus selama 8 tahun sebelum terpilih menjadi Uskup, yaitu Komisi Kitab Suci, Kateketik dan Liturgi. Selama berkecimpung di ketiga komisi ini, beliau telah menorehkan banyak pelayanan kreatif untuk meningkatkan kualitas iman umat, terutama kelompok kategorial anak-anak, Remaja dan Orang Muda Katolik. Menurut sharingnya, selama 8 tahun beliau melaksanakan 600 Bible Camp yang menggerakkan orang muda untuk mencintai kitab suci. Sarubhal menarik adalah persepktifnya tentang perlunya pelatihan kaderisasi kepemimpinan baginpara calon krisma sebelum menerima sakramen krisma. Baginya, sakramen krisma itu tanda kedewasaan iman dan keberanian bersaksi. Maka para krismawan/ti seyogyanya dibekali dengan pemahaman dan keterampilan untuk bersaksi iman di tengah kehidupan.

Pribadi kedua yang menarik untuk ditulis adalah Romo Manggo, yang kedua orangtuanya asli Ende Flores, tinggal di Bogor. Beliau kelahiran Bogor, dan menjadi imam diosesan Keuskupan Tanjung Karang. Uskup mengangkatnya menjadi Vikjen lantaran kemampuannya untuk memahami reksa pastoral keuskupan, kejeliannya mencari solusi, keakrabannya dengan para imam, para hidup bakti dan umat, bahkan dengan para seminaris dan frater. Beliau memiliki rasa humor yang tinggi dan selalu menciptakan suasana cair dan sukacita dalam setiap perjumpaan. Selalu saja ada hal- hal kocak yang mengundang tawa sukacita.

Kami dijemput oleh Rm Manggo dan Rm Heru yang adalah sekretaris. Masih muda tapi punya kompetensi di bidang administrasi. Rm Heru juga kocak, rendah hati, komunikatif, pencinta sastra, pelukis. Ada bersamanya selalu membawa sukacita karena kerap muncul seloroh kocaknya yang tidak terduga dan inspiratif. Di kamar makan, kami bisa duduk lama sambil makan dan ngobrol aneka hal. Salah satu pendengar setia adalah Rm Desta, yang menangani KOMSOS. Dialah orang di balik kelancaran penerbitan majalah bulanan Nuntius, Radio keuskupan dan perayaan misa online dari kapela keuskupan. Dia tak banyak bicara, tapi merekam semua adegan yang berlangsung di kamar makan. Nantinya akan muncul di Nuntius. Saya bersama kedua diakon ikut misa pagi di kapela keuskupan dipimpin Rm Untoro. Dua karyawan Komsos menyiapkan perlengkapan misa maupun peralatan siaran langsung. Banyak umat yang tidak bisa ke gereja karena terhalang banyak faktor, bisa mengikuti misa ini, walaupun tanpa komuni, dan hanya mendapat santapan sabda.

Nuntius masih tetap terbit karena Uskup mempertimbangkan umat di pelosok yang tetap membutuhkan bacaan tercetak, bukan digital. Pilihan literasi cetak tetap menjadi prioritas agar umat yang gaptek digital bisa mengikuti perkembangan keuskupan dan mendapat pembelajaran iman melalui Nuntius. Salah satu rubrik yang menarik adalah tentang katekese hukum Gereja yang diasuh oleh Romo Bagas. Romo Bagas lulusan Roma di bidang Hukkm Gereja dan kini bekerja sebagai Ketua Komisi Yudisial atau Tribunal Keuskupan Tanjung Karang.

Saya juga akhirnya berjumpa kembali dengan Suster Isabel FSGM yang menjadi koordinator Komisi Kitab Suci Regio Sumatera. Suster berkisah tentang rumpun pewartaan yang di dalamnya ada komisi Kitab Suci, Kateketik dan Liturgi. Sejalan dengan ide dan arahan Uskup, yang memperkuat SDM komisi-komisi, kelihatan bahwa Komisi Kitab Suci Tanjung Karang akan mengalami perkembangan pesat ke depan. Selain di komisi, dia juga membantu di paroki Katedral untuk menangani seksi pewartaan dan pembinaan iman.

Kamis, 13/6, Rm Manggo bersama Suster Isabel mengantar kami berkeliling mengunjungi 3 paroki, yaitu Teluk Betung, Kedaton dan Katedral. Diakon Oswyn akan tinggal di Teluk Betung sampai tahbisan. Diakon Ari di Kedaton. Di Teluk Betung kami berjumpa dengan ibu Eni, seorang dokter gigi, yang bekerja di paroki membantu menangani keuangan paroki. Dia mendedikasikan dirinya untuk pelayanan gerejawi tanpa pamrih. Ini sebuah contoh partisipasi awam dalam menggerakkan kehidupan paroki sebagaimana direfleksikan dalam sinodal kali lalu.

Di Kedaton kami berjumpa dengan Sr Vita HK, yang menangani sekretariat paroki. Di sinilah saya bisa melihat majalah Nuntius yang terbit bulan ini dan sedang didistribusi ke paroki-paroki. Ternyata pastor parokinya adalah Rm Tripomo yang saya kenal semasa studi di Roma. Beliau belajar Liturgi, saya belajar Teologi Biblis. Sayang sekali, kami tidak berjumpa karena beliau mengantar para seminaris rekreasi di pantai.

Di Katedral kami berjumpa dengan pastor paroki dan kedua pastor rekan, Rm Agus, Rm Bqmbang dan Rm Wolfram. Katedral sedang dibangun. Cukup besar, hanya tidak punya halaman parkiran. Beda dengan Teluk Betung dan Kedaton. Letaknya di tengah kota, sehingga akan menjadi ikon baru di kota Tanjung Karang.

Pukul 12.10 kami kembali ke rumah uskup dan makan siang bersama. Selesai makan, rombongan dari Palembang tiba. Rm Alex mengantar Rm Kim dan Diakon Tony berkunjung ke Tanjung Karang. Diakon Jems tidak ikut karena sakit. Kami lanjutkan makan bersama lagi sambil ngobrol aneka hal. Uskup dan para romo yang ada turut menemani. Suster menyiapkan bakso dan kopi. Lampung terkenal pula dengan kopi sebagai salah satu komoditi khas. Kopi tanpa gula. Rasanya sedap dan baunya harum sekali. Kopi robusta.

Pukul 14.00 kami bubar. Rm Kim dkk berkeliling kota Tanjung Karang. Saya ke kamar untuk berbenah karena pukul 15.00 berangkat ke bandara. Menjelang berangkat hujan turun dengan derasnya. Bapa Uskup ternyata masih menunggu dengan sabar. Rm Manggo siap mengantar saya, ditemani kedua diakon dan suster. Saya pamitan dengan Bapa Uskup dan para romo. Semoga bisa jumpa lagi saat tahbisan. Rm Heru memberikan titipan untuk Uskup Rony. Kami berpisah. Sayonara.

Perjalanan ke bandara memakan waktu 1 jam karena cukup macet di jalan. Di bagian melewati Kedaton, Natar hingga bandara ternyata tidak ada hujan. Di bandara, saya turun dan mereka lanjutkan perjalanan pulang. Masih ada 25 menit untuk check in. Ternyata harus pakai check in online dan saya belum paham. Si mbak petugas yang baik hati membantu saya. Akhirnya saya bisa masuk ke ruang tunggu. Kursi 15B. Pesawat telah tiba. Tak lama kemudian para penumpang Lion Air tujuan Jakarta dipersilakan naik ke pesawat. Selamat tinggal, Tanjung Karang. Selamat melayani, para Diakon. Tuhan memberkati. Jika Tuhan berkenan, kita berjumpa lagi.

Comments
Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More