Prof. Budi Hardiman: Apakah Filsafat masih perlu di era AI?

0 52

Narasumber pertama seminar nasional FF Unwira tentang AI, Prof. Budi Hardiman, dalam paparannya mengangkat fenomena AI dengan pertanyaan: Apakah Filsafat masih perlu di era AI? Menurut dosen Filsafat Universitas Pelita Harapan itu, jawaban atas pertanyaan itu mengarahkan kita pada tugas awal filsafat atau tugas klasik filsafat yakni mencari kebijaksanaan. “Filsafat dari kata philos dan sophia, artinya cinta kebijaksanaan. Maka makna filsafat itu adalah mencari kebijaksaan. Kebijaksanaan adalah keutamaan dari kecerdasan, jadi ada aspek moral.”

Dengan keutamamaan itu manusia masa kiji menyikapi AI sebagai sebuah penanda zaman, sesuatu yang baru yaitu mesin yang berpikir. Ini adalah novum dalam sejarah manusia. Manusia tetap lebih dari mesin. Meskipun AI telah berupaya menyamai manusia, bahkan melampaui manusia, sampai disebut oleh Prof Budi Hardiman sebagai “Imago humana”.

Menghadapi fenomena ini, Dosen Universitas Pelita Harapan itu menyatakan bahwa tugas filsafat sangat penting dan mencakup beberapa aspek: pertama, Filsafat bertugas menunjukkan batas-batas mesin, bahwa martabat manusia jauh lebih tinggi dari pada AI. Kedua, Tugas kritis, yaitu filsafat membela kebebasan manusia. Ketiga, tugas Antisipatoris, yaitu filsafat mesti menghubungkan fenomena baru dengan pertanyaan dalam filsafat klasik.

Pada akhirnya, diakui bahwa AI memang memiliki banyak manfaat, tetapi tetap memiliki keterbatasan. Pada ranah biologis, psikologis, epistemologis, ontologis, AI sebagai mesin tidak memiliki dimensi banyak hal yang menjadi kekhasan manusia. “AI hanyalah simulasi berpikir. Karena itu tidak memiliki kesadaran moral.”

Comments
Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More