KURE’ DALAM UME MNASI: SEBUAH PRAKTEK INKULTURASI KLASIK SEBAGAI UPAYA PEMELIHARAAN IMAN UMAT DI DAERAH BUDAYA ETNIS DAWAN NOEMUTI- TIMOR.

0 25

KURE’ DALAM UME MNASI:

SEBUAH PRAKTEK INKULTURASI KLASIK

SEBAGAI UPAYA PEMELIHARAAN IMAN UMAT

DI DAERAH BUDAYA ETNIS DAWAN

NOEMUTI- TIMOR.

—————————————————————–

  1. PENDAHULUAN

 

Pesan apostolik Paus Paulus VI “Evangelii Nuntiandi” (EN) tanggal 8 Desember 1975 mengenai evangelisasi[1] dalam dunia modern memberikan gambaran yang jelas mengenai arti evangelisasi, yang meliputi warta eksplisit maupun perwujudan konkrit warta tersebut[2]. Evangelisasi adalah memaklumkan nama, ajaran, kehidupan dan janji-janji Kerajaan dan misteri Yesus dari Nazareth, Putera Allah.    Evangelisasi memasuki semua lapisan kebudayaan manusia sampai akar-akarnya. Injil mesti mengubah kemanusiaan dari dalam dan memperbaharuinya dalam makna, nilai-nilai, minat, aspirasi dan model kehidupan. Evangelisasi menyangkut seluruh lapisan kebudayaan manusia, keprihatinan-keprihatinan hidup bersama dalam masyarakat. Maka dari itu evangelisasi berhimpitan dengan inkulturasi[3], usaha umat setempat untuk menjalani Injil dalam situasi masyarakat konkrit[4]. Pewartaan Injil dan inkulturasi sangat erat dan saling berhubungan. Melalui inkulturasi Gereja pada pihaknya menjadi tanda yang lebih mudah dimengerti mengenai apa yang ditandakan, dan istrumen yang lebih efektif bagi perutusan[5].

Konsep “inkulturasi” pertama sekali digunakan pada tahun 1953 oleh Piere Charles, seorang misiolog Perancis. Ia menerjemahkan ungkapan Amerika “enkulturation” (enkulturasi)[6] yang banyak sedikitnya bertalian dengan istilah Jerman “Sozialization” (integrasi ke dalam budaya suatu masyarakat), dengan kata-kata baru bahasa Perancis “inculturation”. Begitulah terbentuk sebuah istilah yang tiga dekade berikutnya diadopsi ke dalam banyak bahasa, karena ia tidak menimbulkan kesulitan untuk menerjemahkannya. Pada tahun 1962, lewat karya Yoseph Masson, istilah ini muncul lagi dengan sedikit modifikasi; pada era Vatikan II ia memperkenalkan suatu “Katolisisme Inkulturatif” suatu keterbukaan Gereja terhadap segala budaya. Dalam kombinasi “evangelisasi dan inkulturasi” kata inkulturasi akhirnya mendapat tempat dalam dokumen-dokumen kepausan (bermula dengan “Cathechesi Tradende” 1979). Juga mendapat tempat dalam jargon resmi Gereja, dalam bahasa para misiolog dan teolog, dalam arti yang tetap dipertahankan konsep itu hingga masa sekarang: inkarnasi Kabar Gembira Yesus Kristus tentang kedatangan Kerajaan Allah ke dalam suatu kebudayaan manusia[7].

 

Warta universal dari Allah yang dimaklumkan dalam diri Yesus Kristus, dialamatkan kepada manusia dari suatu kebudayaan tertentu, yang hanya dapat menanggapi warta itu lewat budaya mereka. Gereja hanya dapat secara tepat melakukan tugas pewartaan kalau ia menyampaikan Sabda Allah itu dalam suatu realita konkret dari suatu kebudayaan yang konkret, dalam suatu cara yang demikian rupa sehingga pendengarnya mengerti dan dapat menanggapinya. Karena itu, “inkulturasi” dapat didefinisikan sebagai : relasi dinamis antara kabar gembira kristiani dengan suatu kebudayaan atau kebudayaan-kebudayaan; suatu integrasi kehidupan Kristen ke dalam suatu budaya; suatu proses yang berkelanjutan dari interaksi dan asimilasi yang kritis serta timbal balik[8].

 

Dalam proses menjumpai pelbagai kebudayaan dunia, Gereja tidak hanya menyalurkan kebenaran-kebenaran dan nilai-nilainya, serta membaharui kebudayaan-kebudayaan dari dalam, tetapi mengangkat juga dari pelbagai kebudayaan unsur-unsur positif yang sudah terdapat di dalamnya. Itulah kewajiban bagi para pewarta Injil dalam menyalurkan iman Kristiani dan menjadikannya sebagian dalam warisan budaya bangsa. Sebaliknya, pelbagai kebudayaan, kalau diperhalus dan diperbaharui dalam terang Injil, akan menjadi ungkapan-ungkapan yang sejati bagi satu-satunya iman Kristiani[9].

 

Kure’ merupakan salah satu kebudayaan klasik yang dimiliki masyarakat etnis Dawan berdialek Noemuti – Timor. Kure’ adalah satu bentuk kegiatan rohani yang sangat inkulturatif, dan yang sangat disukai umat dan masyarakat di Noemuti. Kegiatan ini telah berlangsung sejak berabad-abad yang lampau dan terus dihidupi oleh umat dan masyarakat Noemuti hingga saat ini. Kegiatan Kure’ ini diciptakan oleh misionaris-misionaris Portugis (imam-imam Dominikan), yang menetap di Kote – Noemuti, pada pertengahan abad ke-17, jelasnya pada tahun 1642. Hingga akhir abad ke-17 tidak ada lagi imam yang menetap di Kote-Noemuti; dengan demikian wilayah itu berada dalam suatu situasi yang sulit. Dalam keadaan tanpa pelayanan imam Katolik seperti ini, praktek Kure’ lalu menjadi sebuah sarana ampuh pemeliharaan iman umat. Hal ini berlangsung terus hingga pada tahun 1915 dan 1916, ketika Noemuti dikunjungi oleh seorang imam dari Serikat Sabda Allah (Pater Constant van den Hemel, SVD).

 

Bagaimana awal mula pertemuan dan berkembangnya budaya Kure’ hingga menjadi sarana pewartaan dan pemeliharaan iman umat di Noemuti, akan kita lihat bersama pada uraian selanjutnya.

 

 

  1. NOEMUTI SELAYANG PANDANG

 

2.1. Noemuti Dahulu

 

Menurut catatan sejarah, Noemuti adalah sebuah wilayah kecil atau daerah enclave yang terletak di pedalaman Pulau Timor, dalam wilayah etnis Atoin Meto[10]. Secara politis, Noemuti adalah daerah bekas jajahan Portugis sebelum diserahkan atau ditukarkan dengan Maukatar (daerah enklave Belanda di Timor Portugis – sekarang Timor Lorosa’e). Noemuti terletak di perbatasan antara utara dan selatan, antara batas selatan wilayah Katolik dan batas utara wilayah Protestan. Letaknya yang strategis itu semakin dimungkinkan untuk diintegrasikan ke dalam wilayah misi Katolik ketika diketahui bahwa raja Noemuti bersama keluarganya dan para kelompok elitenya telah menganut agama Katolik.  Noemuti dengan statusnya yang baru dalam tatanan politis penjajahan ketika itu dan dalam tatanan kehidupan sosial religius tetap menjadi perhatian dan rebutan, baik dari pihak Protestan maupun Katolik, kendati Protestan tidak pernah berhasil.

 

Nama Noemuti sendiri sudah dikenal dalam tulisan-tulisan lepas pada pertengahan abad ke-17, atau tepatnya pada tahun 1642, ketika kerajaan Liurai Sonba’i dihancurkan oleh Portugis dan Sonba’i melarikan diri. Tentara Portugis hitam (Topassis, atau Tupas Eurasia versi Karel Steenbrink, yang dijuluki orang Portugis hitam karena keturunan campuran) menduduki Noemuti pada tahun yang sama dan berlangsung untuk rentang waktu yang lama. Pada saat itu, Lifao di pantai utara Oekusi menjadi pelabuhan penting bagi kelompok tentara ini dan Noemuti dijadikan benteng dan pusat pertahanan mereka. Kesempatan pendudukan yang lama ini digunakan untuk memperkenalkan agama Katolik. Kemungkinan para tentara yang menduduki tempat itu mengikutsertakan juga para misionaris Dominikan[11]. Para biarawan Dominikan ini lalu membangun sebuah gereja di Noemuti, seperti juga di berbagai kota dan kampung lain di wilayah kaum Topassis atau Tupas.

 

Lahirnya Kote atau Noemuti Kota adalah hasil ciptaan pasukan Topassis atau Kaesmetan itu sendiri. Menurut ukuran saat itu, kota Noemuti sendiri cukup luas dibangun sebagai benteng pertahanan dan pusat segala kegiatan mereka di dalamnya. Rumah-rumah suku dibangun mengelilingi rumah tinggal penguasa ketika itu, dan juga gereja. Kedua bangunan itu berdiri tepat di tengah atau di pusat kota. Sebagai barisan berbentuk benteng itu, dibangunlah rumah-rumah penduduk dan rumah-rumah suku sebagai wakil dari seluruh wilayah sebanyak dua lapis di bagian dalam, dan pada lapisan luar dibangun sebuah pagar batu yang tinggi sebagai pelindung. Kota itu pada akhirnya dikenal dengan nama Kote, yang adalah sebutan lain untuk Kota Noemuti, yang memiliki nama yang sama untuk wilayahnya.

 

Karel Steenbrink mencatat bahwa setelah tahun 1720, kehadiran para misionaris Dominikan menjadi kian melemah. Sekitar tahun 1800, rupanya tidak ada lagi imam yang menetap di Noemuti dan hanya secara kebetulan mereka mendapat kunjungan imam dari Dili. Kendati demikian, dalam mitos tentang asal usul mereka beserta dunia simbolik dari sistem kebudayaan mereka, agama Kristen tetap menjadi sistem utama. Gre (mengikuti kata Portugis igreja atau gereja) tetap menjadi pusat ritual untuk wilayah itu. Keempat tuan tanah utama di sana setiap tahun membawa persembahan hasil bumi ke pusat ritual dan sakral ini. Semua kepala kampung mesti menyumbangkan madu lilin untuk membuat lilin di gereja. Hal ini masih  menjadi kebiasaan mereka ketika Belanda mengambil alih kekuasaan atas Noemuti pada dasawarsa pertama abad ke- 20[12]. Hanya 110 orang dewasa dan 57 anak yang dibabtis secara Katolik. Kekatolikan mereka bercampur dengan berbagai ritual dan konsep orang Timor, namun semua orang, yang sudah dibabtis bersama yang belum dibabtis, memiliki perhatian terhadap gre sebagai pusat ritual mereka. Misi Katolik Belanda yang baru menemukan sebuah jemaat yang siap untuk mendengarkan kata-kata para misionaris[13]. Kalangan elite Noemuti masih melanjutkan kiblatnya ke wilayah Timor Portugis. Tahun 1910-an, anak-anak raja menempuh pendidikan mereka di Dili bersama para klerus, dan malah seorang putri raja berangkat ke Makao bersama para biarawati Katolik, yang melarikan diri dari Timor Portugis setelah revolusi tahun 1910 di Portugal.

 

Pada tanggal 1 November 1916 wilayah Noemuti secara resmi politis digabungkan kembali ke dalam wilayah pemerintahan penjajahan Belanda, setelah ditukar dengan Maukatar di daerah Timor Portugis[14] berkat siasat dari kedua pemerintahan tersebut, Portugis dan Belanda. Oleh karena letaknya yang strategis di mata jalan Trans – Timor, maka Noemuti berubah menjadi pos misi permanen dengan seorang imam menetap pada tahun 1925[15]. Tahun ini merupakan tahun resmi berdirinya Paroki Noemuti, dan di sana ditempatkan dua orang imam secara tetap untuk menangani tugas pelayanan rohani, termasuk melayani umat Katolik di seluruh wilayah utara dari Timor bagian tengah. Selama kurun waktu ini, Noemuti tetap menjadi pos misi terpenting di Timor Tengah Utara[16]. Umat Katolik di Noemuti termasuk kelompok yang sangat tekun dan bertahan, juga ketika mereka sama sekali tidak mengalami pelayanan rohani lagi pada masa krisis tenaga.

 

Bagi masyarakat dan umat beriman di wilayah Kecamatan Noemuti, ada beberapa kegiatan atau tanda yang menjadi kekhasan dan tanda pengenal masyarakat tersebut[17]. Salah satu tanda pengenal khas masyarakat dan umat beriman di Noemuti adalah kegiatan religius Kure’, yang hanya terdapat di paroki Noemuti dalam wilayah keuskupan Atambua, bahkan di wilayah Gereja Katolik Nusa Tenggara. Kegiatan ini biasanya dilaksanakan pada waktu paska, khususnya pada Tri Hari Suci.

 

2.2. Noemuti Kini

 

III. ”UME MNASI” : TEMPAT PRAKTEK KURE’.

 

3.1. Proses Terbentuknya Ume Mnasi/ Rumah Adat di Kote.

 

3.1.1.”Ume Mnasi”.

 

Secara leksikal, kata majemuk ”Ume Mnasi” mengandung pengertian sebagai berikut. Ume artinya rumah; mnasi artinya tua, matang, dewasa. Dalam pengertian ini, mnasi artinya para pendahulu. Karena itu Ume Mnasi artinya rumah yang dibangun bersama oleh segenap anggota marga utama dan semua submarganya dan dijadikan sebagai rumah pertemuan bersama dan rumah adat mereka. Rumah suku atau rumah marga tersebut dibangun dan diresmikan menjadi rumah adat setelah mendengar dan mendalami beberapa pesan yang diterima oleh seseorang dari marga, yang bisa dipercaya[18].

 

Secara sosial, Ume Mnasi atau Rumah adat adalah sebuah bangunan fisik nyata, yang mempunyai peranan sangat penting dalam membina dan memelihara kesatuan dan persatuan suku atau marga-marga yang tergabung di dalamnya. Ume Mnasi menjadi sebuah ruang  dan titik pertemuan atau ruang dan titik pemersatu, dari mana setiap anggota marga dan submarganya membangun atau menarik sebuah garis kekerabatan.

 

Ume Mnasi atau Rumah Adat, berbeda dengan Rumah Pemali atau Ume Le’u (Uim Le’u). Rumah adat umumnya dihuni, sedangkan rumah pemali Ume Le’u tidak dihuni. Rumah pemali ini dianggap sangat keramat, karena di dalamnya disimpan peninggalan leluhur dan benda pemali lain, yang dianggap memiliki kekuatan khusus guna membantu Atoni mematahkan kekuatan pemali /le’u musuh[19].

 

Kehadiran dan jumlah Ume Mnasi di Kote sangat berkaitan dengan kedatangan dan menetapnya kelompok-kelompok sosial tertentu di dalam daerah administrasi politik dan sosial budaya Noemuti dalam beberapa gelombang. Mereka datang dan memilih tempat, membuat rumah tinggal dan tempat berlindung dalam satu lingkaran bersama atau dalam kumpulan yang tak beraturan. Tempat rumah kepala suku/marga selalu di tengah, yang menjadi lambang pemersatu, persatuan dan kesatuan, sekaligus berfungsi sebagai tokoh yang selalu mengambil inisiatif untuk setiap pertemuan keluarga suku atau marga atau kelompok. Jumlah Ume Mnasi yang ada di Kote sebanyak 27 buah. Ini berarti ada sekitar 27 suku atau kumpulan marga yang mendiami daerah Noemuti, yang bentuk mininya diabadikan di Kote dengan konsentrasi pembangunan rumah adat atau rumah suku.

 

Rumah kepala suku atau marga juga menjadi tempat penyimpanan segala macam benda pusaka suku atau marga yang sakral, magis serta mitis. Para pahlawan yang hendak pergi berperang harus masuk ke dalam rumah-rumah itu untuk memohon kekuatan dan perlindungan. Setelah perang mereka kembali masuk lagi ke dalam rumah adatnya untuk bersyukur atas kepulangan dan keselamatannya. Fungsi seperti inilah yang mengangkat status rumah kepala suku/marga atau Kanaf menjadi penting dan suci. Alasannya ialah karena di sana berdiam kepala suku atau kelompok yang mempunyai wewenang sosial budaya dan secara istimewa juga religius. Bertolak dari kenyataan seperti inilah maka terciptalah sebuah rumah khusus yang kemudian dikenal dengan nama Ume Mnasi atau Rumah Adat/Suku/Marga.

 

3.1.2. Ume Mnasi : Aktus Sakralisasi Ruang dan Pengulangan Kosmogoni

 

Ruangan Ume Mnasi sebelumnya adalah ruangan profan yang mengalami perubahan fungsi dan isi.  Tempat tersebut ditata ulang dengan diberikan fungsi religius. Dengan demikian menjadikan tempat itu sebagai sebuah ruang khusus, tertutup untuk semua orang karena peningkatan statusnya. Demikian terciptalah suatu aturan yang rapih, yang bertolak dari khaosnya kehidupan profan. Tempat tersebut menjadi tempat pertemuan doa dan aktivitas religius, sebuah tempat suci.  Pengadaan tempat suci seperti itu merupakan suatu tindakan penciptaan kosmos baru, yang bersifat mikro. Setiap pengkosmosan  sebuah tempat baru selalu mengandung pengertian perbuatan mentahbiskan atau menyucikan.

 

Dalam setiap Ume Mnasi, selain tanah dalam ruang tersebut yang disucikan dengan pemberian status rumah adat, selalu ada sebuah tempat khusus lagi di dalam ruang itu yang diperuntukkan bagi dewa/i atau arwah nenek moyang. Masyarakat menyebutnya dengan istilah Ni Ainaf = Tiang Induk/Tiang Utama. Di bawah Ni Ainaf itulah selalu diciptakan sebuah altar/ruang khusus untuk maksud tersebut. Ni Ainaf merupakan bagian terpenting dan wajib yang harus ada. Menurut pengertian para pemilik, Rumah adat menjadi ’tali pusat dunia’ mereka. Penciptaan pusat tersebut memberikan rasa aman dan pasti bagi para penduduk atau penghuni rumah itu. Karena dengan demikian rumah mereka dijaga dan dilindungi oleh leluhur.

 

  1. Cunningham mengatakan bahwa di dalam rumah adat Atoni diketemukan juga lambang-lambang atau simbol-simbol dari tata kosmik dan tata sosial. Lambang-lambang itu bagaikan buku hidup bagi si Atoni mengenai dunianya. Pada saat-saat genting, suku Atoni selalu berpegang pada Ni Ainaf (Tiang Induk), Hau Monef (Tiang Jantan), dan Faot Kanaf (batu nama), tiga lambang serangkai. Dari tiga lambang kekuatan ini suku Atoni menggantungkan nasib hidupnya; dan pola hidup ini sudah membudaya[20]

 

3.1.3. Ume Mnasi sebagai Axis Mundi.

 

Ume Mnasi sebagai ”ruang” adalah suci dan magis bagi setiap anggota suku atau marganya. Karena itu setiap anggota secara pribadi dan bersama mempunyai hubungan khusus dengan ruang tersebut, yang tidak bisa dielakkan. Satu sikap batin dan tingkah laku yang sepadan dituntut dari setiap anggota bila ingin masuk atau berada di dalam rumah tersebut. Di dalam rumah tersebut selalu diciptakan lagi sebuah tempat khusus, yang ditahbiskan bagi Dewa/i atau ”Yang sangat dihormati”. Secara umum lokasi tertutup Ume Mnasi adalah lokasi suci, yang dapat disebut axis mundi, pusat dunia bagi setiap pemilik rumah, baik untuk ditinggali maupun yang berfungsi sebagai rumah adat suku atau marga. Dalam hal ini axis mundi tidak bersifat universal untuk makrokosmos, melainkan berlaku hanya untuk setiap mikrokosmos dengan batas-batas yang jelas dan tegas, khususnya ambang pintu, yang merupakan daerah peralihan dari dunia/wilayah yang profan ke dalam dunia/wilayah, ruang yang sakral dan suci. ’Pusat dunia’, atau ruang tersebut mempunyai hubungan dengan dunia atas dan dunia bawah. Dengan demikian terjadilah jalinan hubungan antara tiga tingkatan kosmis, yakni bumi, langit dan dunia bawah tanah.

 

Hubungan dengan langit dapat diungkapkan dalam berbagai gambaran, yang berkaitan dengan axis mundi seperti tiang, tangga, batu, gunung, pohon, dsb. Setiap Ume Mnasi menampilkan sistem alam yang sudah terbentuk secara pasti batasnyadan ditandai dengan dinding rumahnya. Karena itu sistem rumah adat berbentuk kerucut atau Ume Suba’ dengan pengadaan pintu masuk yang pendek/rendah, yang menyimbolkan suatu tindakan dan tujuan religius. Maksudnya bahwa dengan menginjakkan kaki di atas tanah dan di ambang pintu setiap Ume Mnasi, orang memasuki sebuah ruang khusus yang suci dan magis. Karenanya setiap pengunjung harus menunjukkan sikap hormat dan penghargaan dengan menundukkan kepala ketika memasuki pintu rumah yang rendah dan sempit itu.

 

 

3.1. 4. Fungsi Ume Mnasi.

 

Ume Mnasi sebagai sebuah tempat religius mengalami penyempitan fungsi, karena penambahan fungsi baru sebagai tempat tinggal keluarga para penjaga, yang juga belum atau tidak terdapat sebuah aturan yang jelas. Dengan itu Ume Mnasi mempunyai fungsi sakral dan magis sekaligus profan. Adapun fungsi Ume Mnasi  adalah sebagai berikut:

 

  1. Sebagai tempat penyimpanan harta pusaka warisan para leluhur berupa alat-alat perang atau pertahanan diri, alat-alat kerja, obat-obatan dari batu atau akar-akar maupun kulit dan daun-daun pohon, juga alat-alat perhiasan dari nenek moyang laki-laki.
  2. Sebagai tempat pertemuan penting dari anggota-anggota suku untuk urusan-urusan intern, yang berkaitan dengan adat suku atau marga itu.
  3. Sebagai simbol atau tanda pemersatu yang mengikat setiap anggota suku atau marga, baik dalam keluarga maupun segenap anggota marga.
  4. Menjadi tempat pengumpulan bahan-bahan atau natura berupa Pen’ tauf (jagung bersama batangnya) atau Pen’ Husufa (jagung dan bunga rumput, maksudnya padi), yang dimaksudkan sebagai derma atau upeti kepada raja. Bahan-bahan itu kemudian diarak menuju dan diantar ke istana raja, sebagai salah satu bentuk pajak, tanda pengakuan atas kekuasaan raja tersebut, yang diyakini sebagai pemilik tanah, pemberi kehidupan dan kesuburan bahkan sebagai wakil dari Dewa Tertinggi.
  5. Tempat pengumpulan sirih pinang adat (puamnasi dan manumnasi) sebagai tanda pertemuan persiapan perkawinan resmi dan pemberian belis seorang puteri (noni ’tio = uang tempat sirih, atau tanda semacam air susu ibu).
  6. Tempat penerimaan Noni ’Tutu’ panu atau noni eno-lalan (maksudnya uang atau pemberian yang diperoleh saudara ibu dari keluarga seorang yang meninggal ketika memberikan simbol izinan agar jenazah itu boleh dikuburkan) ketika salah seorang anggota suku meninggal, dalam bentuk uang atau materi lain, untuk diserahkan kepada dia yang berhak menerima dan menyimpannya secara simbolis. Tempat penerimaan anggota baru menurut jalur perkawinan dan kelahiran, di mana nono (adat pengikat) pihak laki-laki atau suami diterimakan kepada isteri dan anak-anak yang dilahirkan dari keduanya atau yang diangkat anak, sekaligus sebagai peresmian seorang anggota marga yang baru.
  7. Sebagai tempat memohon berkat dan kekuatan untuk berhasil dalam usaha.
  8. Sebagai tempat doa dan meditasi bagi mereka yang ingin mendapatkan kekuatan khusus.[21]

 

Fungsi Ume Mnasi yang demikian, lalu mengalami perubahan sesudah dipengaruhi kekristenan. Keadaan dan kepengaturan rumah-rumah adat sesudah masuk dan diterimanya agama Katolik tidak terlalu banyak membawa perubahan, kecuali mengangkat salah satu fungsinya dan menonjolkannya, selain penyempurnaan yang perlu dengan penghilangan hal-hal tertentu. Namun pada dasarnya perubahan itu tidak terjadi secara substansial melainkan hanya secara materiil.

 

Ada dua hal yang ingin diperhatikan secara khusus yakni pengangkatan dan pemberdayaan aspek sakral dan religius Ume Mnasi, dan kedua, perubahan material. Fungsi religius masyarakat diangkat dan didayagunakan. Masyarakat setempat sudah mempunyai dasar religius dan spiritualitasnya. Hal itu mereka praktekkan dalam kehidupan bermasyarakat. Misalnya penghormatan kepada orang tua, dan mereka yang berusia lanjut, membawa korban persembahan, doa dan korban, perayaan ritus dan inisiasi tertentu, penghormatan terhadap nenek moyang yang hidup terus dalam masyarakat orang-orang mati. Hal-hal tersebut diaktualisasikan secara tetap, yang selalu dikaitkan dengan satu dua kegiatan agraris.

 

Unsur-unsur religius dan spiritualitas yang dimiliki suku-suku di daerah Noemuti menarik perhatian bangsa penjajah Portugis untuk mengambil satu tindakan konkrit dengan memberi isi dan fungsi baru kepada rumah-rumah adat tersebut. Cara ini harus ditempuh untuk dapat berhasil mewartakan agama Katolik. Secara substansial Ume Mnasi/rumah adat mengalami perubahan isi. Alat-alat pembantu yang digunakan sebagai sarana pembangkit dan peningkatan spiritualitas mengalami pembaharuan dalam arti diganti. Benda-benda pusaka dari nenek moyang dikeluarkan. Sebagai pengisi kekosongan tersebut ditempatkan patung-patung religius khas Katolik sebagai sarana bantuan pembinaan iman. Dengan ini, secara resmi rumah-rumah adat tersebut menerima fungsinya yang baru.

           

3.2. Ume Mnasi dan Praktek Kure’.

 

Kehadiran bangsa dan para petugas penginjil Portugis di Noemuti membawa sesuatu yang baik bagi kehidupan keagamaan masyarakat setempat. Semua Ume Mnasi yang ada di Kote mendapatkan fungsinya yang baru dengan terbentuknya kegiatan Kure’.

 

Pada umumnya dapat dikatakan bahwa Ume Mnasi adalah tempat pertemuan dan lambang persatuan dan kesatuan segenap anggota sebuah suku atau kanaf (= yang berhubungan dengan nama atau marga – suku). Walaupun mendapat dimensi baru, tetapi Ume Mnasi selalu mempunyai fungsi sebagai tempat pertemuan dan persembahan keluarga besar.  Di sana juga para anggotanya memanjatkan doa-doa kepada Yang Ilahi dan Yang Disembah. Apakah pertemuan tersebut dapat disebut Qahal (kumpulan orang beriman – Israel yang berada di Sinai – semacam gereja) seperti yang terdapat dalam kalangan Yahudi. Kure’ yang ada dan dilaksanakan di Kote dapat disebut sebagai Qahal, sebab dalam pertemuan tersebut Allah hadir dan dihadirkan di tengah mereka. Demikian Ume Mnasi mendapat sebuah dimensi baru, bukan lagi tempat penyimpanan kepala manusia hasil kemenangan pahlawan perang atau kepala-kepala sapi atau kerbau, taring-taring babi, ataupun benda-benda keramat dan magis lainnya, melainkan menjadi tempat ibadat kristen Katolik. Di dalamnya ditempatkan alat-alat bantu sesuai dengan tradisi devosional agama Katolik.

 

Tindakan yang dilakukan oleh para misionaris Portugis  ini sejalan dengan apa yang dilakukan oleh Agustinus, Abas Canterbury, menyangkut misi Anglo-Saxon (tahun 601), sesuai dengan instruksi dari Paus Gregorius I. Paus sungguh-sungguh menasehati utusannya untuk menggunakan suatu metode misioner yang memperlihatkan sikap lemah-lembut menghadapi kebiasaan agama lama. Paus Gregorius berpendapat bahwa hanya berhala-berhala dalam kuil-kuil kafir yang harus dimusnahkan, bukannya kuil-kuil itu. Tempat pemujaan kafir harus diberkati sebagai Gereja dengan memercikan air berkat, membangun altar dan menempatkan reliqui-reliqui untuk penghormatan. Ini terutama dilakukan terhadap kuil-kuil yang telah dibangun dengan baik, sehingga orang melihat bahwa kuil itu tidak dimusnahkan, akan meninggalkan segala kesalahan, lalu dengan rela datang ke tempat kebaktian yang sudah biasa didatangi, dan sekarang untuk berbakti kepada Tuhan yang benar.Di sekitar Gereja orang harus membangun pondok dan riang gembira berpesta dengan hewan sembelihan, tetapi tidak lagi sebagai penghormatan kepada dewa-dewi, melainkan sebagai puji-pujian kepada Tuhan[22].

 

Tindakan pergantian alat-alat pembantu devosi pemeliharaan iman pada semua Ume Mnasi itu memberikan fungsi baru pada rumah-rumah adat sebagai tempat doa. Bangsa Portugis yang telah menduduki Kote dan menatanya menjadi sebuah benteng, melihat bahwa rumah-rumah adat yang dibangun mengelilingi istana raja itu dapat dialihfungsikan menjadi kapela-kapela kecil untuk kepentingan pemeliharaan iman umat. Alat-alat pusaka yang dahulu dipakai di dalam rumah itu dikeluarkan dari rumah yang mereka hormati sebagai sakral. Sebagai gantinya ditempatkan patung-patung Katolik dalam setiap Ume Mnasi dan semuanya itu menjadi milik pusaka mereka yang harus dijaga, dirawat dan dihormati.

 

Patung-patung yang ditempatkan di setiap Ume Mnasi sangat bervariasi/berbeda dari Ume Mnasi yang satu dengan Ume Mnasi yang lainnya. Patung-patung itu adalah Salib berkorpus, Patung Tuhan Yesus, Santa Maria, patung Keluarga Kudus Nazareth, patung Santu Antonius dari Padua/Losboa, dan patung Santo Fransiskus dari Asisi. Semuanya didatangkan dan ditempatkan di dalam Ume Mnasi untuk menggantikan benda-benda tradisional milik setiap suku dan marga. Tentang praktek Kure’ itu sendiri, orang-orang tua tidak dapat menjelaskan mengapa dilaksanakan. Namun yang pasti bahwa praktek itu telah dipromotori oleh para misionaris Dominikan yang sempat menetap di Kote pada saat itu.

 

  1. KURE’ : SEBUAH PRAKTEK INKULTURASI KLASIK DAN SARANA PEMELIHARAAN IMAN UMAT.

 

Kegiatan Kure’ pada dasarnya merupakan salah satu bentuk adaptasi tradisi kehidupan masyarakat Noemuti. Praktek ini berjalan lancar dan diwariskan turun-temurun hingga sekarang berkat kemauan baik para leluhur orang-orang Noemuti yang menghayati tujuan pembentukan praktek kegiatan Kure’ dalam pusat kerajaan atau benteng, yang kemudian menjadi pusat kegiatan misi dan religius.

 

4.1. Arti Etimologi kata atau istilah Kure’.

 

Para tua adat di Noemuti tidak mampu menjelaskan dari mana kata Kure’ berasal, karena mereka masih buta huruf, dan juga tidak terdapat literatur atau dokumen tertulis mengenai kegiatan ini. Akan tetapi berdasarkan bentuk kegiatannya, dapat ditelusuri kembali arti dan tujuan dari penciptaan kegiatan rohani tersebut. Berkaitan dengan kegiatan tersebut, maka Kure’ dapat dimengerti sebagai suatu kegiatan doa kelompok, yang dilaksanakan dari rumah adat yang satu ke rumah adat yang lainnya.

 

Kure’ adalah sebuah istilah asing dalam perbendaharaan bahasa Dawan. Kata ini hanya ditemukan di Noemuti dan hanya digunakan dalam kaitan dengan pembicaraan tentang kegiatan tersebut bersama dengan segala aspek dan unsurnya. Cara penulisan yang digunakan tidak mengikuti cara penulisan bahasa Latin melainkan menggunakan cara penulisan bahasa Indonesia, yakni huruf awal kata curre’ atau cura ditulis dengan huruf  ”K” menjadi Kure’ atau Kura, yang diduga berasal dari bahasa Portugis atau Latin.

 

  1. Kata Kure’ bisa berasal dari bahasa Latin currere yang berarti berjalan, menjelajah seluruh, merambat. Dalam artian ini kata ”Kure’ ”bisa dimengerti sebagai suatu kegiatan berjalan sambil berdoa dari rumah adat yang satu menuju ke rumah adat yang lain. Menjelajah seluruh rumah adat untuk berdoa bersama-sama.
  2. Kata Kure’ bisa juga berasal dari kata Latin cura, yang mempunyai pengertian ibadah, penyembahan kepada dewa-dewi, pemeliharaan. Bertolak dari akar kata ini maka Kure’ yang sudah disesuaikan cara penulisannya mengandung pengertian penyembahan dewa atau Tuhan di dalam semua rumah adat yang telah disiapkan sesuai dengan tradisi persenyawaan yang baru.
  3. Selain itu kata Kure’ juga bisa mengandung pengertian kepedulian, urusan, pemeliharaan. Di Perancis, Pastor paroki Katolik disebut Cure’, orang yang bertugas untuk menangani urusan pemeliharaan rohani umat beriman dalam wilayah tertentu. Kure’ di Noemuti juga mengemban tugas pemeliharaan iman umatnya justru pada saat di mana tidak ada gembala umat, untuk melaksanakan tugas pelayanan rohani.

 

Berdasarkan penjelasan etimologis di atas, maka dapat dikatakan bahwa pengertian kedua dan ketiga jauh lebih mendekati apa yang selama ini dipraktekkan oleh umat di Noemuti.

 

Istilah Kure’ dalam penggunaannya tidak terlepas dari praktek religius yang dilaksanakan di dalam setiap Ume Mnasi di Kote. Berdasarkan praktek yang terjadi selama ini, maka Kure’ diartikan sebagai suatu kegiatan religius (devosi) yang dilaksanakan dalam bentuk berjalan berkelompok dari Ume Mnasi yang satu menuju ke Ume Mnasi yang lainnya untuk berdoa sesuai dengan iman kristen Katolik.Umat yang turut membentuk kelompok mulai berdoa dan bernyanyi dalam setiap rumah adat yang ada, yang diberikan tanda khusus di depan pintu masuk halaman dan rumahnya.

 

Kure’ merupakan nama baru menggantikan kebiasaan tradisional masyarakat setempat. Dengan demikian telah terjadi suatu sintese antara Noemuti lama (masyarakat penganut agama asli) dengan Noemuti baru (masyarakat penganut agama Katolik). Kebiasaan tradisional ini telah menarik minat dan perhatian para misionaris untuk mengambil dan memanfaatkannya demi sebuah tujuan luhur.

 

4.2. Tujuan kegiatan Kure’

 

Tujuan yang ingin dicapai dalam kegiatan Kure’, yakni,

 

a).Tujuan Eksplisit:

Dengan berdoa dan bernyanyi secara berkelompok dalam setiap rumah adat, umat melaksanakan ibadat kristen dan menghayati ajaran yang telah mereka imani. Umat mengucapkan syukur dan terima kasih kepada Tuhan atas segala cinta dan rahmat yang telah mereka terima. Hasil panen yang mereka persembahkan di dalam setiap rumah adat, tempat mereka berdoa dan menyanyi membuktikan ucapan syukur mereka. Hasil panen yang mereka persembahkan menjadi hadiah bagi mereka yang datang berdoa dan menyanyi. Perbuatan ini menunjukkan bahwa mereka menghargai dan menghormati kunjungan sesama.

 

b). Tujuan Implisit:

Dengan melaksanakan devosi tersebut secara tidak langsung dikenangkan silsilah keturunan mereka. Nenek moyang yang telah membesarkan mereka mengajarkan bahwa manusia berasal dari Tuhan. Pada kesempatan yang singkat itu juga umat secara sadar dan aktif berdoa bersama Yesus di Getsemani. Mereka turut menghayati penderitaan Yesus. Namun lebih dari itu adalah harapan akan kebahagiaan hidup dalam hari-hari selanjutnya, terutama kebahagiaan hidup yang kekal.

 

4.3. Waktu Pelaksanaan dan Ruang Kegiatan Kure’

 

a). Waktu Pelaksanaan.

 

Kure’ dilaksanakan selama tiga (3) hari. Inilah saat atau waktu-waktu suci, hari-hari penting aktualisasi waktu keselamatan orang-orang kristen. Hari-hari itu menjadi suci bagi para pengunjung Ume Mnasi. Setiap peserta diharapkan untuk bertingkah laku sesuai dengan tuntutan lisan kegiatan dan waktu suci tersebut. Begitu sucinya hari-hari itu sehingga segala kegiatan rutin dihentikan. Kegiatannya dilaksanakan hanya pada malam hari sesudah perayaan Ekaristi di Gereja.

 

Ketiga hari itu adalah:

 

  1. Hari Rabu. Hari ini adalah hari persiapan terakhir dan oleh masyarakat setempat disebut Rebluman. Ungkapan ini terdiri dari dua kata: Rabu yang adalah salah satu nama hari dalam minggu; dan luman dalam bahasa Dawan, berarti kosong. Dalam kaitan dengan pelaksanaan Kure’, maka Rebluman yang biasanya dilaksanakan pada hari Rabu malam, dimaksudkan dengan kegiatan doa di Ume Mnasi/di rumah-rumah adat, namun belum diikuti dengan pemberian hadiah seperti yang terjadi pada hari Kamis Putih malam dan Jumat Agung malam. Kegiatan malam itu diisi dengan doa pengosongan diri dan pengusiran roh-roh jahat, sebagai persiapan untuk pelaksanaan hari-hari suci, termasuk pelaksanaan kegiatan Kure’ dalam semua Ume Mnasi yang telah disiapkan. Namun kegiatan ini terkadang tidak lagi diadakan di Ume Mnasi melainkan di dalam Gereja, sebagai pusat dari semua Ume Mnasi, yang sering disebut oleh umat setempat sebagai ”Sepe Naek”.
  2. Hari Kamis Putih. Hari ini merupakan hari pertama pelaksanaan kegiatan Kure’. Upacara liturgi Ekaristi dan adorasi di depan Sakramen Mahakudus memperingati perjamuan Tuhan Yesus dan awal kesengsaraan-Nya tetap berlangsung sebagaimana biasa. Kegiatan Kure’ baru mulai berlangsung sesudah makan malam. Umat melakukan kegiatan itu dalam kelompok yang terbatas jumlahnya, yang berjalan dari Ume Mnasi yang satu ke Ume Mnasi yang lainnya sambil berdoa dan menyanyi. Semua Ume Mnasi harus dikunjungi. Para anggota kelompok suku dan marga percaya bahwa rahmat sepenuhnya baru akan dicurahkan kepada peserta, bila setiap rumah adat dikunjungi.
  3. Jumat Agung. Pada hari Jumat Agung, kegiatannya baru dilaksanakan setelah upacara memperingati Sengsara Tuhan kita Yesus Kristus. Tata pelaksanaannya sama seperti pada hari Kamis Putih. Bila pada malam pertama hanya sebagian dari jumlah Ume Mnasi yang dikunjungi, maka pada hari Jumat Agung, kunjungan harus dilanjutkan untuk diselesaikan dan ditutup di Ume Mnasi yang pertama, di mana kegiatan kelompok itu diawali. Di sini sesuai dengan tradisi, tuan rumah akan menjamu para peserta doa kelompok itu.

 

b). Ruang Kegiatan Kure’:

 

Hanya Ume Mnasi menjadi satu-satunya tempat melaksanakan kegiatan Kure’. Di depan setiap Ume Mnasi terdapat tanda, yakni lilin atau obor bernyala. Tiga puluh dua Ume Mnasi menggambarkan jumlah suku yang mendiami daerah Noemuti. Letak semua Ume Mnasi mengelilingi Gereja.

 

4.4. Sarana/Fasilitas

4.4.1. Patung-patung.

 

Setiap Ume Mnasi memiliki seperangkat sarana/fasilitas berupa patung-patung kudus sebagaimana disebutkan di atas (3.2.). Dengan wajah baru Kure’, maka terwujudlah adaptasi religius di Noemuti. Patung-patung yang ada di setiap Ume Mnasi adalah hadiah dari Tuhan. Karena itu mereka berdoa dengan harapan agar Tuhan sudi memberkati hidup mereka. Pemeliharaan peralatan kegiatan Kure’ bertujuan untuk selalu menciptakan hubungan yang baik dengan Tuhan secara pribadi dan bersama.

 

Penempatan patung-patung itu dimaksudkan agar isi Ume Mnasi diperbaharui dan hati umat tidak lagi tersandung pada praktek-praktek agama asli. Patung-patung itu menjadi barang pusaka baru. Anggota setiap Ume Mnasi memandang patung-patung itu sebagai pemberian Tuhan, yang diterima atas cara yang sangat istimewa oleh salah seorang nenek moyang mereka. Dengan demikian mereka mendapat pengetahuan baru. Mereka mulai mengetahui nama Dewa yang sebelumnya disembah tetapi tidak diketahui namanya. Nama itu adalah Uis Neno artinya Usi berarti Tuan, Raja; dan Neno berarti  Langit atau Tuhan Allah. Atribut Uis Neno diperkenalkan penggunaannya kepada masyarakat setempat oleh para misionaris asing (para imam Dominikan dan Serikat Sabda Allah).

 

4.4.2. Hadiah

 

Sarana lain yang turut menunjang kegiatan Kure’ adalah hasil-hasil tanaman yang telah dikumpulkan oleh masing-masing anggota suku. Hasil-hasil itu antara lain: jeruk, tebu, mentimun, sirih pinang, dan juga ut (tepung jagung yang digoreng dari hasil panen tahun itu). Hasil yang dikumpulkan sangat sederhana, namun mengungkapkan penyerahan diri secara total dari seluruh penghasilan umat. Sumber hadiah tersebut adalah hasil pengumpulan dari segenap anggota keluarga besar marga atau kanaf dan yang terkait dengannya. Apa yang diberikan oleh para anggota keluarga besar itu dalam istilah adatnya disebut pa’. Istilah ini dimaksudkan juga dengan hasil pembagiannya berdasarkan haknya atau juga kewajibannya.

 

Keberhasilan para misionaris Portugis bersama masyarakat setempat di Kote, membuka kesempatan baru kepada penduduk setempat setelah mereka memberikan rumah-rumah adat mereka untuk dijadikan dan ditata kembali menjadi tempat ibadat kekristenan. Kesempatan itu memberikan kemungkinan lebih luas untuk mewartakan Kabar Gembira Allah.

 

Kure’ merupakan kegiatan yang tepat waktu, tepat guna untuk menanamkan dan memelihara iman yang telah diajarkan, karena metodenya sangat sederhana. Kure’ sebagai suatu kegiatan bersama berguna demi penghayatan dan pemeliharaan iman. Para misionaris yang mewartakan Injil di Noemuti di abad ke-17 patut disebut sebagai pahlawan yang memperjuangkan sesuatu yang berguna bagi umat setempat. Tradisi tidak dihancurkan bersama nilai-nilai yang luhur tetapi dibuat perubahan yang perlu agar pantas dijadikan sarana pewartaan iman kristen. Dengan menggunakan nilai-nilai tradisi yang berguna dalam kehidupan beragama, masyarakat digugah untuk tidak ragu-ragu menjadi umat Allah.

 

4.5. Kure’ : Sebuah Praktek Inkulturasi Klasik dan upaya pemeliharaan ima umat.

 

Inkulturasi tidak bisa disebut dan dilaksanakan tanpa harus melibatkan kebudayaan setempat. Tylor, seorang antropolog Inggris (1871), mendefinisikan kebudayaan  sebagai satu keseluruhan yang kompleks, dalamnya termasuk pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat, dan setiap kecakapan lainnya, serta kebiasaan-kebiasaan yang diperoleh seseorang sebagai anggota masyarakat[23]. (Salah satu aspek penting adalah usaha untuk menjawabi kebutuhan rohani setiap kelompok).

 

Kalau kita menerima konsep antropologis, konsep yang holistik tentang kebudayaan sebagai suatu basis, maka praktik-praktik agama akan dilihat sebagai bagian atau aspek kebudayaan. Oleh karena kebudayaan itu secara esensial bersifat dinamis, suatu proses yang terbuka kepada perubahan, maka inkulturasi tidak pernah selesai. Bila kita menoleh ke belakang kepada sejarah Gereja, tampak bahwa proses-proses inkulturasi sudah menyertai Gereja sejak awal kehadirannya, dan masih tetap menyertainya. Gereja berkeyakinan bahwa semua kebudayaan berhak dan layak menerima serta meragakan warta Kristen. Inkulturasi dimungkinkan karena Gereja meyakini aneka nilai yang terkandung di dalam kebudayaan itu. Inkulturasi merupakan tujuan tugas perutusan Kristen.

 

Satu dua contoh inkulturasi klasik yang dilakukan  oleh Gereja pada masa awal kekristenan, dapat disebutkan di sini. Pada abad ketiga, pada masa pemerintahan Gregorius Thaumaturgus di Kapadokia, ia menerapkan sebuah metode inkulturasi. Hasil mengagumkan yang dicapainya berkaitan dengan metode-metode misionernya yang sangat terbuka. Ia mengimbangi hal-hal yang ajaib dalam dunia kafir dengan fenomen Kristen yang serupa (misalnya ia mengambil keuntungan penuh dari penampakan-penampakan Maria dan Yohanes). Hanya dengan sedikit penyesuaian Kristen ia mengizinkan rakyar merayakan upacara pesta adat dan perayaan-perayaan lainnya. Menggantikan  upacara keagamaan lokal  yang lama, ia memperkenalkan kultus kepada para martir dirayakan dengan penuh kemeriahan kafir, reliqui para martir dan orang kudus mengambil alih posisi jimat.

 

Contoh kedua diambil dari abad ke-7. Paus Gregorius I pada tahun 601 memberikan instruksi kepada Agustinus Abbas dari Canterbury dalam kaitannya dengan misinya untuk mengkristenkan kelompok suku Anglo-Saxon. Dikatakannya bahwa “Gereja harus meneliti dengan seksama dan hati-hati semua aspek kehidupan dan membiarkan segalanya terjadi, dan mentolerir yang lain dengan bijaksana”. Paus bermaksud agar segala bangunan bangsa Anglo-Saxon itu tidak boleh dihancurkan, sementara semua bangunan rumah ibadat mereka tidak boleh dihancurkan. Bangunan-bangunan itu hendaknya direciki dengan air suci dan disucikan agar bisa digunakan lagi sebagai tempat kegiatan rohani kristen. Pembangunan altar dilengkapi dengan reliqui para kudus sebagai objek penghormatan baru. Juga kekayaan arsitektur harus diambilalih dan digunakan demi pembangunan gereja. Dengan demikian Paus bermaksud agar masyarakat setempat itu mendapatkan kesan bahwa tempat-tempat suci dan doa mereka tidak dihancurkan, melainkan tetap digunakan atau dialihfungsikan untuk ibadat kristen.

 

Kedua contoh di atas persis sama dengan apa yang terjadi di Kote – Noemuti, dengan pemberian peranan dan fungsi baru kepada rumah adat setiap suku, dengan sebutannya yang baru yakni Kure’. Kure’ merupakan salah satu bukti pelaksanaan inkulturasi menurut cara yang dianjurkan oleh Paus Gregorius I kepada Agustinus Abbas di Canterbury.

 

Kegiatan Kure’ sudah lama dipraktekkan di Kote, Noemuti. Kegiatan itu sendiri merupakan salah satu usaha para utusan Allah bersama umat demi mendekatkan Tuhan Allah dan Sabda-Nya kepada masyarakat setempat atau juga sebaliknya sesuai dengan konteks kehidupan masyarakat. Usaha itu disebut inkulturasi. Namun usaha itu pada mulanya tidak mempedulikan aspek-aspek dogmatis dan teologis. Yang diperhatikan dalam kesempatan itu adalah tawaran kemungkinan untuk memelihara iman atas cara yang cocok sesuai dengan suatu pertemuan antara tradisi Noemuti Lama dengan tradisi Noemuti Baru. Yang dimaksudkan di sini adalah bahwa Noemuti tradisional bertemu dan memperbaharui dirinya dengan hal-hal baru., yakni kekristenan, yang dibawa masuk dan diterima oleh masyarakat Noemuti, yang memberikan warna baru di Noemuti sebagai wilayah dan kota khususnya.

Penghayatan iman harus nampak dalam hidup harian dalam suatu komunitas kristen. Menghayati iman berarti mengkomunikasikannya. Kure’ mengungkapkan kehendak umat untuk mengkomunikasikan rahmat Allah serta menyelamatkan sesama. Dengan demikian rencana penyelamatan yang telah dimulai oleh Yesus, dilanjutkan oleh umat sebagai anggota gereja. Bila umat melaksanakan kegiatan Kure’, maka beberapa aspek kehidupan Kristen sudah dihayati.

 

Para misionaris dan bangsa Portugis telah menjadikan masyarakat Noemuti sebagai suatu ”suku bangsa beriman”. Mereka bersatu menyembah Allah dalam berbagai cara dan situasi, terutama juga dalam setiap peristiwa peralihan penting        dalam kehidupan. Kure’ merupakan salah satu cara dan sarana bagi umat untuk menyembah dan mensyukuri Allah atas segala uluran tangan dan sentuhan kasih setia-Nya. Atas cara ini pula masyarakat berusaha untuk memelihara hubungan vertikal dengan Tuhan.

 

 

  1. PENUTUP

 

Kegiatan devosi Kure’ merupakan salah satu bentuk adaptasi atau inkulturasi dari sebuah kebiasaan tradisional masyarakat Noemuti. Proses inkulturasi tersebut sebenarnya merupakan suatu pertemuan antara Noemuti Lama (tradisi lama yang asli) dan Noemuti Baru (tradisi baru yang datang dari luar/asing). Adaptasi baru tersebut membawa hembusan angin segar ke dalam kehidupan masyarakat, sebagai pendorong agar mereka terbuka dan bersedia untuk menerima dan menghidupi ajaran dan iman Katolik. Kegiatan tersebut sangat dibutuhkan sebagai sarana bantuan pada saat-saat ketiadaan tenaga pembina rohani yang tetap. Masyarakat sebelumnya hidup dalam suasana pengaruh agama asli; mereka berkontak dengan Yang Tertinggi hanya melalui simbol-simbol saja.

 

Kure’ merupakan sarana yang mendekatkan umat secara realistis dengan Allah melalui Yesus Kristus dan para sahabat Yesus – para orang kudus. Umat mengimani kehadiran Allah yang memberkati segala karya dan kegiatan mereka. Kure’ karenanya merupakan syukur dan pujian yang integratif kepada Tuhan karena kebaikan-Nya yang tidak berkesudahan baik secara langsung maupun tak langsung. Kure’ menjadi sarana pewartaan iman dan nilai-nilai hidup agar dihayati dan dikomunikasikan kepada generasi berikutnya.

 

Kegiatan Kure’ mengingatkan umat akan eksistensinya yang sangat bergantung dari Tuhan, pencipta alam semesta. Merayakan kegiatan religius Kure’ mengingatkan umat akan suatu periode sejarah panjang keagamaan mereka, yang sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan umat wilayah Noemuti. Kegiatan tersebut membangunkan kembali kesadaran orang akan suatu masa, di mana orang yang dipermandikan harus menjalin kerja sama yang baik dan sehat dengan para pemuka adat dan agama asli, untuk bersama memelihara iman, yang telah diterima sebagai salah satu harta pusaka masyarakat.

 

Aktualisasi kegiatan tersebut membantu orang Noemuti untuk mengakui bahwa mereka pernah mengalami suatu periode krisis iman, karena ketiadaan gembala iman – gembala tertahbis, sebagai tokoh pemersatu dan pengikat dalam kelompok umat tersebut.

 

Kegiatan Kure’ akhirnya adalah kegiatan dari, oleh dan untuk umat setempat yang masih sederhana pemahaman iman mereka. Di balik kesederhanaan itu tertanam kuat semangat beriman yang sungguh-sungguh, walau kesungguhan itu belum menjadi ukuran kepastian kemantapan dan kekuatan daya tahan iman terhadap goncangan badai zaman ini.

 

————————————————–

 

Penfui, 15 November 2008

Pada Pesta Santo Albertus Agung.

 

[1]Evangelisasi: Pewartaan Kabar Gembira (Injil) mengenai Yesus Kristus (Mrk 1:1) kepada semua bangsa (Mat 28:19-20; Rm 10:12-18) dan kebudayaan. Melalui kuasa Roh kudus (Kis 1:8), Injil diwartakan baik kepada orang-orang Kristiani maupun bukan Kristiani.

[2]Paus Paulus VI, Anjuran Apostolik Evangelii Nintiandi Pewartaan Injil Dalam Dunia Modern (8 Desember 1975), No. 17, dalam R. Hardawiryana (Penterj.), Kumpulan Ajaran Sosial Gereja Tahun 1891-1991 dari Rerum Novarum sampai Centesimus Annus, Seri Dokumen Gerejawi Edisi Khusus, (Jakarta, 1999). Untuk kutipan selanjutnya digunakan singkatan EN disertai no artikelnya.

[3] Inkulturasi: Istilah yang mengungkapkan keharusan untuk mengkontekstualisasikan warta dan hidup Kristiani dalam pelbagai kebudayaan manusia yang berbeda-beda. St. Paulus dan para pewarta Injil yang lain pada masa Gereja Awal berhadapan dengan tantangan untuk melaksanakan penyesuaian dengan kebutuhan orang-orang beriman yang berasal dari lingkungan bukan Yahudi (lih. Kis 15:1-29; 17:16-34; Gal 2:1-10). Sesudah berakar kuat di Eropa, Kristianitas lalu diidentifikasikan dengan kebudayaan Eropa. Konsili Vatikan II (1962-1965) mengajarkan bahwa Injil tidak menjadikan salah satu kebudayaan normatif, melainkan harus dijelmakan dalam setiap kebudayaan demi penyelamatan seluruh umat manusia(Lih LG 13, 17,23; GS 39, 55, 58;  AG 9-11, 21-22).

[4]J.B. Banawiratma, Inkulturasi, Umat setempat berusaha mengerti dan menjalani Injil, dalam ROHANI Majalah untuk Kehidupan Religius, Tahun XXIX No. 12, Desember 1982, (Yogyakarta, Kanisius, 1982), hal. 364.

[5]Paus Yohanes Paulus II, Ensiklik Redemptoris Missio (7 Desember 1990), No. 52. Untuk kutipan selanjutnya, digunakan singkata RM disertai no artikelnya. Di dalam artikel ini mendiang Paus Yohanes Paulus II mengatakan: “Selagi melaksanakan karya missioner di kalangan bangsa-bangsa, Gereja berjumpa dengan pelbagai kebudayaan dan terlibat dalam proses inkulturasi. Kebutuhan untuk keterlibatan semacam itu sudah mewarnai perjalanan Gereja sepanjang sejarah, tetapi dewasa ini menjadi sangat mendesak.

Proses pengintegrasian Gereja ke dalam kebudayaan bangsa-bangsa berlangsung lama. Hal ini bukanlah soal adaptasi luar semata-mata, karena inkulturasi ‘berarti transformasi yang mendalam dari nilai-nilai kebudayaan yang otentik lewat integrasi nilai-nilai tersebut dalam kristianitas dan integrasi kristianitas dalam berbagai kebudayaan manusiawi’.

Dengan demikian, proses tersebut merupakan sesuatu yang mendalam dan mencakup semua hal, ia meliputi kabar gembira Kristen dan juga pemikiran dan kebiasaan Gereja…

Lewat inkulturasi Gereja membuat Injil terinkarnasi dalam berbagai kebudayaan dan pada saat yang sama memasukkan bangsa-bangsa, bersama dengan kebudayaannya, ke dalam persekutuan Gereja. Gereja menyebarkan kepada bangsa-bangsa niali-nilainya, tetapi pada saat yang sama mengambil unsur-unsur yang baik yang sudah ada dalam kebudayaan-kebudayaan itu dan membaharuinya dari dalam. Melalui inkulturasi Gereja, pada pihaknya, menjadi tanda dan sarana yang lebih berhasil guna”.

[6] Term enkulturasi dipergunakan dalam ilmu-ilmu sosial untuk menggambarkan proses belajar melalui mana setiap orang menjadi anggota kebudayaannya. Proses ini sebagian terbesar bersifat informal dan tidak disadari. Term ini sangat sering dipergunakan sebagai sinonim dari sosialisasi. Artinya kita dapat mengatakan seorang yang lahir dan dibesarkan di Portugal dienkulturasikan ke dalam kebudayaan Portugal. Enkulturasi terjadi melalui interaksi sosial, pengaruh keluarga, teman, sekolah, media massa serta lingkungan sosial umumnya di mana seorang dibesarkan selama suatu jangka waktu tertentu dan pada suatu tempat tertentu. Sedangkan “akulturasi” mengacu kepada perjumpaan antara dua buah kebudayaan, dua buah perangkat symbol, tatanan nilai dan cara pandang atas dunia yang berbeda. Perjumpaan demikian dapat berlangsung di dalam suatu konteks yang saling menghormati dan saling bertenggangrasa atau sebaliknya di dalam suatu konteks konflik dan manipulasi.

[7]Dr. Georg Kirchberger, SVD – Dr. John Mansford Prior, SVD (eds.), Iman dan Transformasi Budaya, Seri Verbum, (Nusa Indah, Ende, 1996), hal. 153-154.

[8]Ibid.

[9]RM., No. 52.

[10]Atoin Meto adalah nama yang biasa digunakan oleh para ahli dari berbagai disiplin ilmu baik dalam maupun luar negeri untuk menyebut orang-orang Dawan dalam setiap tulisan ilmiah mereka. Uraian selanjutnya, baca Andreas Tefa Sawu, Di Bawah Naungan Gunung Mutis,(Nusa Indah, Ende, Flores, 2004),17-22.

[11]Andreas Tefa Sa’u, SVD, Menghargai Tradisi Menghormati Manusia. Analisis Atas Kegiatan Kure’ di Kote, Noemuti Sebuah Pertemuan Antara Tradisi Lama dengan Tradisi Baru, (Yayasan Gita Kasih, Kupang, 2008), vii. Lihat juga Karel Steenbrink, Orang-Orang Katolik di Indonesia 1808 – 1942, Sebuah Profil Sejarah 2: Pertumbuhan yang Spektakuler dari Sebuah Minoritas yang Percaya Diri 1903 – 1942, diterjemahkan oleh Yosef Maria Florisan, (Ledalero, Maumere, 2006), 292-294.

[12] Dalam salah satu surat permohonannya untuk melayani daerah Noemuti yang ditujukan kepada Gubernur Jenderal melalui Residen Kupang, Prefek Apostolik Kepulauan Sunda Kecil, Mgr. Petrus Noyen, SVD, menekankan bahwa Raja Noemuti dan keluarganya sudah menganut agama Katolik di bawah pemerintahan Portugis. Karena itu, Uskup Noyen tetap mendesak  misi Katolik di bawah Serikat Sabda Allah pergi ke Noemuti untuk melayani umat beriman Katolik di sana.

[13] Karel Steenbrink, Op. Cit., hal. 292-293. Di sini Steenbrink mengutip H.G. Schulte Nordholt.

[14]Pengaturan/pembagian ini hampir bersamaan waktunya dengan traktat terakhir antara Portugal dan Belanda menyangkut daerah-daerah koloni di Timor. Melalui pembenahan tapal batas ini, wilayah Noemuti menjadi bagian wilayah kekuasaan Balanda, dan Maukatar di masukkan ke dalam wilayah Timor Portugis. Persaingan antara misi Protestan dan Katolik untuk Timor Tengah, yang memiliki masa lampau Portugis ini, memainkan peran utama. Banyak anggota keluarga para raja dan kalangan elite dari bekas wilayah kekuasaan Portugis ini memiliki kedekatan dengan agama Katolik, dan malah sebagian telah menganut iman Katolik. Oleh karena itu, Timor Tengah dibagi antara orang-orang Katolik dan Protestan: bagian utara, dekat dengan daerah kantong Portugis Oekusi, diperuntukkan bagi orang-orang Katolik, bagian selatan bagi orang-orang Protestan. Lih. Karel Steenbrink, hal. 289-290.

[15]Menurut Steenbrink, hanya ditempatkan seorang imam saja, lih. Hal. 293.

[16]Andreas Tefa Sa’u, SVD, Op. Cit., hal.xvi

[17]Ada beberapa tanda pengenal masyarakat Noemuti, a.l.: model kombinasi penggunaan warna untuk produksi pakaian adat tradisional yang khas, nama-nama marga Portu-Dawan seperti: Barboza, Fretes (= de Fretis), Kosat (= da Costa), Silab (= da Silva), Lopis (= da Lopez), Kune (= da Cunha), Meol (= de Mello),Rusae (= de Rosari), Kruz (= da Cruz) dll; Kegiatan Religius Kure’, juga ada yang bersifat atribut. Atribut itu adalah panggilan Kaesmetan. Kaesmetan adalah sebutan yang digunakan untuk menandai suatu kelompok, yang pada waktu itu, sebelum merdeka, sudah memiliki keunggulan tertentu. Lih. Andreas Tefa Sa’u, SVD, Op. Cit., hal. xii.

[18]Ibid.,hal. 45.

[19] Mgr. Anton Pain Ratu, SVD, Menuju Gereja Umat – Pastoral Akar Rumput. Kiat dan Kesan Pastoral Mgr. Anton Pain Ratu, SVD Uskup Atambua – Timor 40 Tahun Imam 15 Januari 1958 – 1998, (Puspas Keuskupan Atambua, Timor, 1997), hal. 513. Dalam sebuah artikel berupa ceramah berjudul ”Maria Tiang Induk Rumah Adat Katolik: Umat Rumah Adat, Gereja Masa Depan”, yang dibawakan oleh Uskup Anton pada kesempatan perayaan Nasional Tahun Maria di Maumere – Flores pada tahun 1988, beliau berbicara  begitu menarik dan mendalam tentang Rumah Adat Atoni.

[20] Ibid.

[21] Andreas Tefa Sa’u, SVD, Menghargai Tradisi…, Op. Cit., hal.54-56.

[22] Dr. Georg Kirchberger, SVD, Dr. John Mansford Prior, SVD (Eds.), Op. Cit., hal. 160-161.

[23]Dr. Georg Kirchberger, SVD – Dr. John Mansford Prior, SVD, (Eds.), Op. Cit., hal. 158.

Comments
Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More