Dari Kupang ke Tanjung Karang

0 127

Saya bangun pukul 04.00. Otak bekerja cepat: atur persiapan untuk berangkat. Maka mandi, siap barang, misa, sarapan dan pengecekan kedua diakon dilakukan dengan cermat. Semua beres dan terukur tepat.

Pukul 05.15, Fr. Elfrem mengantar kami ke bandara El Tari. Oto merah menembus pagi yang sepi. Wajah Diakon Oswyn dan Doakon Marys berseri. Keduanya siap menjadi misionaris dalam negeri. Dari Kupang menuju Tanjung Karang. Tak ayal, hati pun senang. Tapi sekaligus juga tegang. Sungguh tak terbayang. Bahwa ketika menjadi diakon, akan diutus ke seberang.

Pesawat Batik Air membelah angkasa. Kedua Diakon berusaha tenang dan bersikap biasa. Inilah saatnya memulai perjalanan misi. Sebuah perutusan suci. Diterima dengan kesungguhan hati. Dijalani dengan sukacita injili. Tiga jam menuju Jakarta. Waktu berlalu tak terasa. Keduanya memejamkan mata. Entah bermimpi apa. Saya mengisi waktu dengan membaca. Lalu menulis catatan ini tanpa suara. Masih banyak waktu sebelum tiba. Maka pilihan doa rosario kiranya lebih tepat dan bijaksana.

Usai doa rosario, saya lanjutkan catatan ini dengan sedikit refleksi. Tentang misi. Inilah aspek dari refleksi sinodal 2024 yang diminta Paus Fransiskus. Bagaimana perwujudan misi KAK setelah mengalami proses sinodal berjalan bersama dalam persekutuan, partisipasi dan misi sejak 2021-2023? Salah satu yang dibuat KAK dalam hal misi adalah kedua diakon yang menjadi misionaris di Tanjung Karang. Hari ini keduanya menuju “tanah misi”. Keduanya menjalani perutusan sebagai diakon dan nantinya menjadi imam di Keuskupan Tanjung Karang. Misi KAK ini bukan karang-karang. Juga bukan kaleng-kaleng. Dua diakon ini menjadi perintis di tanah misi baru untuk KAK, yaitu Keuskupan Tanjung Karang. Selama ini KAK telah mengirim misionaris dalam negeri ke beberapa keuskupan: Padang, Palembang, Sorong Manokawari, Tanjung Selor. Dengan demikian, Gereja KAK melaksanakan misi melalui perutusan para misionaris KAK dalam bingkai kesatuan Gereja universal. Keuskupan yang surplus imam dapat mengirim misionaris imam untuk membantu keuskupan lain yang membutuhkan. Dari perspektif ini, Gereja KAK telah mewujudkan semangat sinodal berjalan bersama dalam aspek misi.

Pukul 08.40 waktu Jakarta. Pesawat Batik Air Boeing 737 seri 800 NG mendarat di Bandara Soekarno Hatta. Kedua diakon yang baru pertama kali melakukan perjalanan jauh ini terlihat lelah. Rupanya semalam kurang tidur karena gelisah. Pantas di atas pesawat keduanya memilih diam dan tidur. Tidur pulas. Tak mengapa. Ini pengalaman pertama. Gelisah itu normal. Kami bergerak menuju gedung terminal untuk ganti pesawat ke Bandar Lampung. Masih ada waktu dua jam untuk naik pesawat berikut: Lion Air.

Saya mengajak mereka jalan-jalan di depan gedung terminal sekalian cari makan. Dari Kupang kami hanya “makan tahan”. 3 jam kemudian kelaparan. Jalan-jalan, makan, gaya di depan taman, bahkan di depan kios aneka jualan. Juga di depan tulisan unik dan berkesan: Laporan Kehilangan, atau kios Cantik Manis. Keduanya menikmati saat-saat unik ini. Setelah makan dan jalan-jalan, kami menuju ruang tunggu E3. Sambil menunggu boarding, saya menulis catatan lanjutan ini.

Pukul 12.10 para penumpang dipersilakan boarding. Pukul 12.40 terbang. Romo Heru mengirim pesan “Hanya 40 menit, Romo”. Jakarta – Lampung dekat. Tiba di bandara Raden Intan II Bandar Lampung. Rm Heru menjemput kami bersama Rm Manggo,

Vikjen Keuskupan Tanjung Karang. Di rumah makan Siantar, masakan Batak, kami mampir untuk makan bersama. Menunya khas Batak dan amat lezat. Kami makan sambil ngobrol aneka hal. Selesai makan kami menuju keuskupan.

Bapa Uskup Alvin ada di rumah keuskupan. Kami berjumpa dan ngobrol di meja makan selama 1 jam. Suasana sangat cair dan akrab penuh persaudaraan. Selalu ada saja seloroh dari Rm Manggo dan Rm Heru, bahkan Uskup. Di rumah keuskupan ini Uskup tinggal bersama Vikjen, Rm Manggo, Sekretaris Rm Heru, Ketua Komisi Komsos Rm Desta, Ketua Tribunal Rm Bagas, Rm Untoro, Rm Ibdra, Rm Pid.

Saya menyerahkan berkas kedua diakon kepada Uskup dan kami bincang-bincang selama 1 jam sampai saat makan malam.

Suasana persudaraan sangat kental. Kami berbincang aneka hal. Pukul 20.30, saya mulaai merasa ngantuk. Bapa Uskup menutup acara makan dan saya pamit istirahat. Rm Heru berpesan, besok misa pagi di kapel pukul 06.00. Setelah ibadat dan baca bacaan liturgi untuk besok, saya istirahat. Syukur kepada Tuhan, terima kasih kepada semua yang memungkinkan kami bertiga sampai di Tanjung Karang. Tuhan memberkati.

Comments
Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More