Bapak Mundus dan Sawah Tadah Hujan

0 65

Nama lengkapnya Edmundus Finit. Tinggal di Taitnama. Bagian dari Kapela Noekele. Dia seorang petani tulen. Meskipun pernah menjabat sebagai kepala desa satu periode (2017-2022), dia lebih banyak menaruh perhatian pada usaha pertanian.

Wilayah Taitnama bukanlah daerah banyak air. Ini daerah kering. Terletak di ketinggian. Sumber air justeru terletak di bawah. Kali yang bersumber dari Tesbatan terletak di bawah. Maka untuk kebutuhan air minum saja sulit sekali. Sejak tahun 2011 dia berusaha bersama masyarakat untuk mendapatkan bantuan dari Kompas. Hasilnya air bisa ditarik dari kali, ditampung di bak dan dialirkan ke pemukiman penduduk. Cukup untuk kebutuhan minum, mandi, cuci. U tuk pertanian, masih dibutuhkan lebih banyak air.

Sewaktu dia menjabat sebagai kepala desa tahun 2017-2022, dia berusaha agar ada waduk. Hasilnya satu waduk yang cukup untuk membantu masyarakat bisa bertani dengan memanfaatkan air waduk.

Penduduk Taitnama memiliki lahan cukup luas untuk bertani, tetapi hanya menunggu musim hujan untuk ditanami jagung. Hasil jagung digunakan untuk kebutuhan pokok pangan. Tidak ada yang mencoba bertani sawah tadah hujan di lahan yang cukup luas itu.

Suatu ketika, bapak Mundus berdiskusi dengan pihak pertanian dari Kabupaten Kupang. Dia diajarkan mengenai sistem pertanian sawah tadah hujan. Lahan tidur di Taitnama dapat dijadikan sawah tadah hujan. Stelah menyerap ilmu dari penyuluh pertanian, dia nekat mengubah lahannya menjadi lahan sawah. Dia berjuang keras agar beras selalu tersedia tanpa kekurangan. Uang yang diperoleh dari pelihara sapi dll tidak dipakai untuk beli beras. Tekadnya, harus swasembada beras. Jalannya adalah sawah tadah hujan.

U tuk itu dia nekat membeli traktor dengan uang pinjaman di koperasi. Dengan bantuan traktor, dia mengolah lahannya menjadi sawah tadah hujan. Masyarakat sekitarnya hanya menonton dia bersama seisi rumahnya bekerja. Dia tidak peduli omongan orang. Hanya satu cita-citanya: menjadikan lahan itu sawah tadah hujan yang menghasilkan beras. Pola pertanian jagung setiap tahun diubah menjadi pertanian sawah tadah hujan, sesuai kondisi alam yang minus air.

Selama tiga tahun dia bekerja. Hasilnya lumayan untuk swasembada beras. Sesudah panen, dia memanfaatka lahan untuk tanaman tomat. Hasilnya dijual dengan keuntungan lumayan.

Sesudah tiga tahun, masyarakat diarahkan oleh Pendeta GMIT setempat untuk mengikuti teladan bapak Mundus. Dengan senang hati dia membantu. Dimulai dengan kelompok tani. Pengolahan lahan masyarakat berjalan baik. Kini semuanya ikut bertani sawah tadah hujan. Hasilnya luar biasa. Rerata  penduduk Taitnama yang dianggap gersang itu kini mampu swasembada beras. Semuanya dimulai dari kenekatan seorang Mundus Finit.

Ilmu yang diperoleh dari pengalaman bertani sawah tadah hujan dibagikannya untuk adik-adiknya di Noekele. Lahan yang semula dimanfaat setahun sekali dengan tanam jagung diganti dengan sawah tadah hujan. Kali kering yang tanpa air dibendung untukenampung air saat hujan. Hasilnya luar biasa. Mereka bisa panen hingga ratusan karung.

Bapak Mundus sendiri mampu memanen hingga 130 karung padi. Semuanya cukup untuk hidup setahun tanpa pengeluaran uang untuk beli beras sebagaimana tahun-tahun silam. Untuk panen, dia mengajak masyarakat yang tidak punya lahan sawah tadah hujan membantu panen padi. Setiap tenaga kerja mendapat sekarung beras. Dia berkisah, terkadang yang membantu panen bisa mencapai 30 orang. Karena banyak yang membantu, maka panen dikerjakan dalam dua hari. Hemat waktu. Juga bisa menolong sesama dengan padi.  Karena 30 orang yang membantu berarti 30 karung menjadi jatah mereka. Sisanya 100 karung untuk dia dan keluarganya.

Bapak Mundus kini tetap fokus mengolah lahan pertanian sawah tadah hujan dengan sukacita. Setiap tahun dia tidak kekurangan pangan. Pertanian tumpang sari juga dilakukan. Hasilnya cukup untuk membiayai hidup keluarga, termasuk pendidikan anak hingga perguruan tinggi. Dia menjadi inspirasi untuk orang yang mau berjuang. Lahan kering yang kelihatan tidak menghasilkan apa-apa diubahnya menjadi lahan penghasil beras. Itulah bapak Mundus dari Taitnama, dengan sawah tadah hujan. Tuhan pun tersenyum dari surga, melihat orang-orang seperti dia.

Comments
Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More